Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Ada 18 Kasus Diduga Hepatitis Akut, Ini Gejala Umum pada Pasien Menurut Dirut RSPI

Jumat 13 May 2022 20:24 WIB

Rep: Dian Fath Risalah, Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Andri Saubani

Dokter Puskesmas Kecamatan Sawah Besar memberikan sosialisasi tentang penyakit hepatitis akut di Mangga Dua Selatan, Jumat (13/5/2022). Kegiatan sosialisasi tersebut dalam rangka mitigasi penularan penyakit hepatitis akut.

Dokter Puskesmas Kecamatan Sawah Besar memberikan sosialisasi tentang penyakit hepatitis akut di Mangga Dua Selatan, Jumat (13/5/2022). Kegiatan sosialisasi tersebut dalam rangka mitigasi penularan penyakit hepatitis akut.

Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga
Hingga kini sudah ada tujuh kasus kematian diduga akibat hepatitis akut misterius.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan hingga kini ada 18 pasien dengan dugaan terjangkit hepatitis akut di Indonesia. Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, dr. Mohammad Syahril mengatakan, sebanyak 72,2 persen atau 13 pasien mengalami gejala demam sebanyak 72,2 persen atau 13 pasien.

"Demamnya tidak tinggi. Kemudian mual, muntah, hilang nafsu makan," kata Syahril dalam Konferensi Pers secara daring, Jumat (13/5/2022).

Baca Juga

Kemudian, sebanyak sebanyak 55,6 persen atau 10 pasien mengalami mual. Ada sebanyak 50 persen atau 9 pasien mengalami gejala muntah dan hilang nafsu makan.

"Gejala lainnya, diare akut 44,4 persen. Malaise (lemah, lesu) 44,4 persen. Nyeri bagian perut (kembung-kembung) 38,9 persen," ungkap Syahril.

Para pasien juga mengalami nyeri pada otot-otot dan sendi, dengan persentase 27,8 persen. Juga kuning di bagian mata, termasuk kulit dengan persentase 22,2 persen.

"Untuk gatal-gatal (11,1 persen). Kemudian urine seperti air teh (5 persen) dan gejala sesak nafas yang tidak ditemui pada pasien ini," jelasnya.

Untuk rentang usia, terbanyak adalah 5-9 tahun yakni 6 orang, 4 orang berusia 0-4 tahun. Kemudian, 4 orang berusia 10-14 tahun, serta 4 orang berusia 15-20 tahun.

Adapun, 18 kasus dugaan hepatitis akut tersebar di tujuh provinsi. Kasus terbanyak berada di DKI Jakarta sebanyak 12 kasus. Lalu, satu kasus di Sumatera Utara, satu kasus Sumatera Barat, satu kasus di Bangka Belitung, satu kasus di Jawa Timur, satu kasus di Jawa Barat, dan satu kasus di Kalimantan Timur.

"Domisili terbanyak sebaran ini ada di DKI Jakarta ada 12 kasus, dan diikuti enam provinsi lain dengan masing-masing satu kasus," ujar Syahril.

Hingga kini sudah ada tujuh kasus kematian diduga akibat hepatitis akut misterius. Ketujuh pasien, kata Syahirl, meninggal sebelum menjalani pemeriksaan diagnosis probable hepatitis akut misterius. Namun, seluruh pasien menunjukkan gejala serupa mirip penyakit tersebut.

"Yang tujuh meninggal tadi belum probable, karena belum kita tegakkan diagnosisnya sebagai hepatitis akut. Sehingga, kita tidak bisa mengatakan pasien tujuh ini meninggal karena hepatitis akut," kata dokter Syahril.

Sebagian besar pasien yang meninggal, sambungnya, sudah dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar setelah mengalami gejala yang lebih berat, seperti kejang dan menurunnya kesadaran. Namun, ia tidak rinci menjelaskan rumah sakit mana saja yang menangani ketujuh pasien tersebut.

"Nanti akan disampaikan Kementerian Kesehatan untuk wilayah, usia, dan profil kesehatan pasien," ujarnya.

 

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA