Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Inggris Desak Sekutu Terus Persenjatai Ukraina dan Sanksi Rusia 

Jumat 13 May 2022 17:28 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha

Liz Truss, Menteri Luar Negeri Inggris, kiri, dan Hayashi Yoshimasa, Menteri Luar Negeri Jepang berbicara pada awal pertemuan bilateral selama Kelompok G7 kekuatan ekonomi demokrasi terkemuka di Weissenhauser Strand, Jerman, Kamis 12 Mei 2022.

Liz Truss, Menteri Luar Negeri Inggris, kiri, dan Hayashi Yoshimasa, Menteri Luar Negeri Jepang berbicara pada awal pertemuan bilateral selama Kelompok G7 kekuatan ekonomi demokrasi terkemuka di Weissenhauser Strand, Jerman, Kamis 12 Mei 2022.

Foto: Marcus Brandt/Pool via AP
Anggota G7 berjanji akan melarang atau menghentikan impor minyak dari Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pemerintah Inggris mendesak sekutu untuk terus mempersenjatai Ukraina. Pada saat bersamaan, mereka diminta meningkatkan sanksi ekonomi terhadap Rusia.

“Saat ini sangat penting bagi kami untuk terus menekan (Presiden Rusia) Vladimir Putin dengan memasok lebih banyak senjata ke Ukraina, dengan meningkatkan sanksi. Persatuan G7 sangat penting dalam krisis ini,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris Liz Truss dalam pembicaraan hari kedua dengan para menlu anggota G7 di Jerman, Jumat (13/5/2022).

Baca Juga

Akhir pekan lalu, negara anggota G7 berjanji akan melarang atau menghentikan impor minyak dari Rusia. “Kami berkomitmen menghapus secara bertahap ketergantungan kami pada energi Rusia, termasuk dengan menghapus atau melarang impor minyak Rusia,” demikian bunyi pernyataan tertulis para pemimpin negara anggota G7 setelah melangsungkan pertemuan daring yang turut diikuti Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Ahad (8/5/2022), dikutip Anadolu Agency.

Selain itu, G7 berencana menerapkan sanksi lain, yakni dengan melarang atau mencegah penyediaan layanan utama yang menjadi sandaran Rusia. G7 menegaskan kembali komitmen mereka untuk melanjutkan tindakan terhadap bank-bank Rusia yang terkait dengan ekonomi global dan secara sistemik kritis terhadap sistem keuangan Rusia.

“Kami akan melanjutkan upaya kami melawan upaya rezim Rusia untuk menyebarkan propagandanya. Perusahaan swasta yang terpandang tidak boleh memberikan pendapatan kepada rezim Rusia atau afiliasinya yang memberi makan mesin perang Rusia,” kata para pemimpin G7.

Tak hanya itu, G7 juga bakal membidik elite keuangan dan anggota keluarganya yang mendukung Presiden Rusia Vladimir Putin dalam upaya perangnya di Ukraina. “Konsisten dengan otoritas nasional kami, kami akan menjatuhkan sanksi pada individu-individu tambahan,” katanya.

Anggota G7 terdiri dari Inggris, Amerika Serikat (AS), Kanada, Jepang, Jerman, Prancis, dan Italia plus Uni Eropa. Sejak Rusia melancarkan serangan ke Ukraina pada 24 Februari lalu, negara-negara tersebut telah dengan vokal melayangkan kecaman terhadap Moskow. Selain menyokong Ukraina dengan bantuan militer, mereka berusaha mengisolasi Rusia secara ekonomi. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA