Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

BI Surakarta Dorong Santri Berwirausaha

Jumat 13 May 2022 16:13 WIB

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi

Wirausaha santri (ilustrasi). Bank Indonesia (BI) Perwakilan Surakarta, Jawa Tengah, mendorong santri berwirausaha untuk sumber ekonomi baru sehingga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan perekonomian secara nasional.

Wirausaha santri (ilustrasi). Bank Indonesia (BI) Perwakilan Surakarta, Jawa Tengah, mendorong santri berwirausaha untuk sumber ekonomi baru sehingga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan perekonomian secara nasional.

Foto: Muhammad Fauzi Ridwan/Republika
Kemandirian diharap menjadikan pesantren penggerak ekosistem rantai nilai halal.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Bank Indonesia (BI) Perwakilan Surakarta, Jawa Tengah, mendorong santri berwirausaha untuk sumber ekonomi baru sehingga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan perekonomian secara nasional.

"Pondok pesantren sebagai pilar dari penguat dan juga kalau bisa sebagai sumber ekonomi baru. Selama ini kan usahanya biasa-biasa saja, kalau didorong dan meningkat bisa menjadikan pondok pesantren makin mandiri, makin bagus, dan sekitarnya berkembang," kata Kepala BI Kantor Perwakilan Surakarta Nugroho Joko Prastowo di Solo, Jumat (13/5/2022).

Baca Juga

Ia mengatakan, secara nasional jumlah pondok pesantren mencapai puluhan ribu dengan jutaan santri. Jika potensi tersebut diberdayakan akan makin baik bagi perekonomian nasional.

"Makanya Hebitren (Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren) dibentuk di seluruh Nusantara, termasuk Solo Raya. Belum lama ini kami melakukan silaturahmi untuk membahas kedaulatan ekonomi, teritori. Kan tidak mungkin bisa memperbaiki ekonomi kalau situasi tidak aman," kata Nugroho.

Ia mengatakan salah satu yang perlu dilakukan adalah hubungan antarpondok pesantren bisa saling menguatkan. "Yang punya usaha disatukan, untuk diskusi dan saling menopang. Misalnya pondok pesantren di kawasan Klaten dan Pengging (Kabupaten Boyolali) bisa membuat air minum dalam kemasan karena di sana punya umbul. Begitu membuat AMDK kan tidak bisa ujug-ujug (langsung) dijual karena harus ada izin edar, tetapi boleh untuk kalangan sendiri. Maka sambil memperbesar bisnis dan menunggu perizinan, kalangan sendiri bisa memesan," kata dia menjelaskan.

Selain itu, dari sisi pengembangan produksi juga perlu diperhatikan. Dengan demikian, produk yang dihasilkan oleh pondok pesantren tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi. "Pondok Pesantren Darussalam Wonosegoro, Boyolali, punya lahan kosong, kami bantu untuk menanam cabai. Pas cabai harga tinggi mereka senang. Begitu pas panen raya hanya Rp 12.000/kg, rugi dong, sehingga perlu dipikirkan agar tidak hanya jual cabai tapi bagaimana menjual bubuk cabai kering, saos, itu kan ilmu, termasuk mau dikemas seperti apa," kata dia.

Dengan program pengembangan kemandirian pesantren tersebut diharapkan dapat mendorong pesantren sebagai penggerak utama dalam ekosistem rantai nilai halal di dalam negeri. Selain itu, sinergi dan keterhubungan dengan UMKM dan korporasi juga perlu terus dilakukan untuk memperkuat peran pesantren dalam pengembangan ekosistem rantai nilai halal.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA