Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Kentongan dan Beduk, Kearifan Lokal untuk Mitigasi Bencana di Mataram

Sabtu 14 May 2022 00:39 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Pekerja membuat kentongan dari bambu. Kentongan dan beduk hingga kini masih menjadi EWS (early warning system). Ilustrasi.

Pekerja membuat kentongan dari bambu. Kentongan dan beduk hingga kini masih menjadi EWS (early warning system). Ilustrasi.

Foto: ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho
Kentongan dan beduk hingga kini masih menjadi EWS (early warning system)

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengatakan mitigasi bencana dari kearifan lokal yang masih dipelihara dan dinilai efektif memberikan informasi dan peringatan dini bencana kepada masyarakat adalah kentongan dan beduk.

"Dua kearifan lokal itu masih kita manfaatkan sebagai mitigasi bencana. Lainnya, sudah berubah sesuai perkembangan zaman dan teknologi," kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Akhmad Muzaki di Mataram, Jumat (13/5/2022).

Baca Juga

Menurutnya dua alat mitigasi bencana dari kearifan lokal tersebut biasanya akan dibunyikan ketika ada satu bencana yang terjadi di sebuah lokasi. "Untuk beduk biasanya dilakukan masyarakat di masjid-masjid sedangkan kentongan dibunyikan di banjar-banjar umat Hindu," katanya.

Kentongan dan beduk hingga kini masih menjadi EWS (early warning system) atau sistem peringatan dini menjadi bagian penting dari mekanisme kesiapsiagaan masyarakat. Ini karena peringatan dapat menjadi faktor kunci penting yang menghubungkan antara tahap kesiapsiagaan dan tanggap darurat.

"Kentongan dan beduk merupakan tindakan memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat," jelas Muzaki.

Dengan membunyikan kentongan dan beduk, masyarakat diharapkan dapat merespons informasi tersebut dengan cepat dan tepat. Kesigapan dan kecepatan reaksi masyarakat diperlukan karena waktu yang sempit dari saat dikeluarkannya informasi datangnya bencana. Sementara peringatan dini bencana yang sudah berkembang mengikuti teknologi saat ini antara lain bisa lakukan dengan membunyikan sirene dan pengeras suara.

"Khusus untuk pendeteksi bencana tsunami, kita sudah punya EWS tsunami di pinggir Pantai Penghulu Agung. Pada tanggal 26 setiap bulan, kita tetap aktivasi untuk memastikan alat tersebut masih berfungsi baik," katanya.

Mataram merupakan salah satu dari 10 kabupaten/kota di NTB yang memiliki enam jenis bencana dari 10 jenis bencana yang kerap terjadi di NTB. Selain gempa disertai tsunami, bencana lain yang mengancam wilayah Kota Mataram adalah banjir, kebakaran permukiman, gelombang pantai, abrasi, dan konflik sosial.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA