Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Respons Lembek Inggris, Amerika Hingga Uni Eropa Atas Pembunuhan Abu Akleh Dikritik

Jumat 13 May 2022 08:35 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Nashih Nashrullah

 Dalam foto tak bertanggal yang disediakan oleh Jaringan Media Al Jazeera ini, Shireen Abu Akleh, seorang jurnalis untuk jaringan Al Jazeera, berdiri di samping kamera TV di area tempat kuil Dome of the Rock di Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem berada. terlihat di kiri di latar belakang. Abu Akleh, seorang reporter wanita Palestina terkenal untuk saluran berbahasa Arab, ditembak dan dibunuh saat meliput serangan Israel di kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki Rabu pagi, 11 Mei 2022.

Dalam foto tak bertanggal yang disediakan oleh Jaringan Media Al Jazeera ini, Shireen Abu Akleh, seorang jurnalis untuk jaringan Al Jazeera, berdiri di samping kamera TV di area tempat kuil Dome of the Rock di Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem berada. terlihat di kiri di latar belakang. Abu Akleh, seorang reporter wanita Palestina terkenal untuk saluran berbahasa Arab, ditembak dan dibunuh saat meliput serangan Israel di kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki Rabu pagi, 11 Mei 2022.

Foto: Jaringan Media Al Jazeera via AP
Pembunuhan jurnalis Aljazirah Shireen Abu Akleh gambarkan kebiadaban Israel

REPUBLIKA.CO.ID, JENIN– Pejabat Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa telah dikritik karena tanggapan mereka terhadap pembunuhan jurnalis Palestina Shireen Abu Akleh oleh Israel pada Rabu (11/5/2022). 

Tanggapan yang dikeluarkan pihak-pihak itu dinilai tidak memberi dampak apapun atas kasus ini.  

Baca Juga

Sementara Asisten Menteri Luar Negeri Qatar Lolwah Al-Khater menyebut pembunuhan Shireen sebagai terorisme Israel yang disponsori negara. Sehingga tidak semua pejabat di seluruh dunia bertindak cepat atau mengutuk. 

Dilansir dari The New Arab, Kamis (12/5/2022), tanggapan Menlu Inggris, salah satunya, dikritik karena dinilai tidak memberi efek apapun kepada Israel.  

Menteri Luar Negeri Inggris, Liz Truss, pada Kamis pagi mentweet: "Saya sedih mendengar kematian jurnalis terhormat Shireen Abu Akleh. Pekerjaan jurnalis di seluruh dunia sangat penting dan mereka harus dilindungi untuk melaksanakan pekerjaan mereka." 

Tweet ini dikritik Kristyan Benedict, manajer tanggap krisis Amnesty International Inggris. "Tidak ada seruan untuk penyelidikan independen (atau penyelidikan apa pun). Tidak ada tuntutan untuk keadilan dan akuntabilitas. Tidak ada sorotan atas serangan berkelanjutan Israel terhadap kebebasan media," katanya. 

"Beginilah cara Inggris memungkinkan lebih banyak kekerasan terhadap warga sipil Palestina," tambahnya.  

Yang lain mempertanyakan penggunaan kata "kematian" oleh Truss, mengingat kesaksian saksi mata bahwa pasukan Israel menembak mati Abu Akleh. 

"Hai Liz, hanya ingin tahu, bagaimana Shireen mati?,"  tanya ahli imunologi Khalil Thirlaway. 

Adapun Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Ned Price pada Rabu mengatakan, "Kami sangat sedih dan mengutuk keras pembunuhan jurnalis Amerika Shireen Abu Akleh di Tepi Barat." katanya.  

"Penyelidikan harus segera dan menyeluruh dan mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban. Kematiannya merupakan penghinaan terhadap kebebasan media di mana-mana," tambahnya. 

Namun Muslim Amerika merasa pernyataan Price tidak cukup jauh. Mereka berkata, "Menuntut 'penyelidikan' atas pembunuhan seorang Amerika di tanah asing hanyalah tamparan di pergelangan tangan," katanya.  

"Tanpa pertanggungjawaban yang tepat, Israel akan terus meneror Palestina, mengolok-olok hukum internasional, dan tidak menghormati AS yang memberinya garis hidup," tambahnya.  

Ada juga Juru bicara utama urusan luar negeri Uni Eropa Peter Stano mengatakan Uni Eropa "mengutuk keras" pembunuhan Shireen. 

"Sangat penting bahwa penyelidikan yang menyeluruh dan independen mengklarifikasi semua keadaan insiden ini sesegera mungkin dan bahwa mereka yang bertanggung jawab dibawa ke pengadilan," katanya.  

"Tidak dapat diterima untuk menargetkan jurnalis saat mereka melakukan pekerjaan mereka. Jurnalis yang meliput situasi konflik harus dipastikan keamanan dan perlindungannya setiap saat," tambahnya.      

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA