Kamis 12 May 2022 13:17 WIB

Ratusan Sapi di Lombok Tengah Positif Penyakit Mulut dan Kuku

Penyebaran PMK meluas hingga di dua kecamatan Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Tim kesehatan hewan memeriksa kondisi fisik sapi untuk mendeteksi penykit mulut dan kuku (PMK) di pasar hewan Desa Sibreh, Kecamatan Sibreh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Selasa (11/5/2022).
Foto: ANTARA/Ampelsa
Tim kesehatan hewan memeriksa kondisi fisik sapi untuk mendeteksi penykit mulut dan kuku (PMK) di pasar hewan Desa Sibreh, Kecamatan Sibreh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Selasa (11/5/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK TENGAH -- Ratusan ternak sapi di wilayah Kabupaten Lombok Tengah,  positif terserang virus penyakit mulut dan kuku (PMK). "Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah telah menerima hasil sampel yang dikirim ke Laboratorium di Denpasar. Hasilnya positif PMK," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah Lalu Taufikurahman di Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (12/5/2022).

Penyebaran virus PMK mulai meluas hingga di dua kecamatan Kabupaten Lombok Tengah. Sebelumnya, di Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah ditemukan sebanyak 63 ekor sapi mengidap PKM. Kemudian, bertambah menjadi 150 ekor di Desa Puyung dan Desa Barejulat, Kecamatan Jonggat. "Gejala yang dialami itu hampir sama, secara populasi ternak sapi itu suspek PMK," kata Lalu.

Dia mengatakan, petugas bergerak cepat melakukan pengobatan dan penyemprotan disinfektan guna mencegah penyebaran virus PMK ke hewan lainnya. "Sapi yang terkena PMK kita isolasi secara kelompok," kata Lalu.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan adanya wabah penyakit ternak yang mulai menyerang puluhan sapi di Lombok Tengah. Sehingga, penyebaran virus PMK itu tidak meluas ke kecamatan lainnya. "Kita juga akan memperketat akses keluar masuk ternak sapi di Lombok Tengah untuk mencegah penyebaran virus PMK tersebut," ujar Lalu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement