Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Sri Mulyani Akui Keberadaan Fintech Mampu Tingkatkan Inklusi Keuangan

Kamis 12 May 2022 13:12 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan sambutan secara virtual saat pembukaan seminar internasional. Sri Mulyani menyebut fintech berikan UMKM banyak pilihan pendanaan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan sambutan secara virtual saat pembukaan seminar internasional. Sri Mulyani menyebut fintech berikan UMKM banyak pilihan pendanaan

Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Sri Mulyani menyebut fintech berikan UMKM banyak pilihan pendanaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Pemerintah menyebut keberadaan fintech dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan inklusi keuangan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). 

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan UMKM perlu didorong untuk mengakses pendanaan agar mereka bisa segera pulih dari dampak Covid-19.

"UMKM kita bisa meningkatkan inklusi keuangan dengan fintech yang bisa membantu mereka menemukan lebih banyak pilihan pendanaan," ujarnya saat seminar internasional: Digital Transformation for Financial Inclusion of Women, Youth, and MSMEs to Promote Inclusive Growth yang digelar secara hybrid, Rabu (11/5/2022).

Menurutnya keberadaan fintech juga bisa menutupi kebutuhan pendanaan bagi UMKM yang masih kesulitan mengakses kredit perbankan. Saat ini baru 18 persen dari kredit perbankan yang disalurkan kepada UMKM di Indonesia atau lebih rendah dari rata-rata penyaluran kredit perbankan kepada UMKM di negara tetangga sebesar 30 sampai 80 persen.

"Fokus kita bagaimana mengimplementasikan kebijakan untuk meningkatkan akses UMKM kepada pendanaan yang mana ini sangat penting tidak hanya untuk memberdayakan mereka tapi juga menciptakan multiplier effect dalam bentuk pembukaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi," katanya.

Selain mendorong UMKM untuk memanfaatkan pendanaan dari fintech, Sri Mulyani menyebut fintech juga perlu diatur terutama dari segi perlindungan konsumen dan keamanan data.

"Ini tidak mudah, terutama di perkotaan dimana jasa finansial digital berkembang cepat. Dengan kepemilikan ponsel pintar, banyak penyedia jasa keuangan digital menawarkan akses kepada jasa keuangan tapi menjadi masalah bagi banyak orang karena bunga mereka sangat tinggi," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA