Rabu 11 May 2022 03:45 WIB

Puasa Syawal Menandakan Ibadah yang Kontinu

Terdapat berbagai macam faedah saat berpuasa syawal/

Rep: Rossi Handayani/ Red: Agung Sasongko
Ilustrasi Berpuasa
Foto: Prayogi/Republika
Ilustrasi Berpuasa

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Terdapat berbagai macam faedah yang bisa didapat seorang muslim ketika ia melanjutkan puasa syawal setelah usai bulan Ramadhan. Salah satu faedahnya yakni puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja.

Dikutip dari buku Fikih Bulan Syawal oleh Muhammad Abduh Tuasikal, Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.

 

Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ’ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.

 

Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka,

 

بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد و يجتهد السنة كلها

 

“Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang saleh yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun” (Lathaif Al-Ma’arif). Jadi, ibadah bukanlah hanya di bulan Ramadhan, Rajab, atau Syakban saja.

 

Asy-Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab, ataukah Syakban?” Beliau pun menjawab,  “Jadilah rabbaniyyin dan janganlah menjadi Syakbaniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Syakban saja. Kami (penulis) juga dapat mengatakan, “Jadilah rabbaniyyin dan janganlah menjadi Ramadhaniyyin.” Lathaif Al-Ma’arif.

 

Maksudnya, beribadahlah secara kontinu sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Allah memberi taufik.

 

‘Alqamah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

 

لا. كان عمله ديمة

 

“Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu,” (HR. Bukhari, no. 1987 dan Muslim, no. 783). Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian.” Lalu Al-Hasan membaca firman Allah, “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin (yakni ajal).” (QS. Al-Hijr ayat 99). (Lathaif Al-Ma’arif). 

 

Ibnu ’Abbas, Mujahid, dan mayoritas ulama mengatakan bahwa ”al-yaqin” adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az-Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan bahwamakna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah setiap saat, sepanjang hidup. (Zaad Al-Masiir)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement