Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Larangan Berlebih-lebihan dalam Memuji Nabi Muhammad

Senin 09 May 2022 07:44 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

Larangan Berlebih-lebihan dalam Memuji Nabi Muhammad. Foto:   Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Larangan Berlebih-lebihan dalam Memuji Nabi Muhammad. Foto: Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Foto: smileyandwest.ning.com
Sebagian orang memuji Nabi Muhammad secara keliru.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Muhammad Lathif, mengatakan, sikap berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah SAW patut diingat dalam hal pujian terhadap Rasulullah SAW bahwa sebagian orang memuji beliau dengan cara yang keliru. Mereka menyifati beliau dengan sifat-sifat yang tidak pernah diberikan oleh Allah, tidak pula oleh diri beliau sendiri.

"Bahkan di antara mereka menyifatinya dengan sifat-sifat yang dilarang untuk digunakan kepada selain Allah," Muhammad Lathif Lc dalam bukunya "Haji dan Cinta Rasullah".

Baca Juga

Apabila mereka diingatkan tentang masalah tersebut mereka beralasan, “Sesungguhnya kami mencintai Rasulullah SAW yang mulia," dan menuduh orang yang mengingkari perbuatannya sebagai orang yang tidak mencintai beliau."

Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa Rasulullah SAW telah melarang pujian yang berlebihan terhadap dirinya dengan cara yang tidak benar. Rasulullah SAW bersabda: Nasrani.

"Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orangorang berlebih-lebihan terhadap putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka hendaklah kalian mengatakan, “Hamba Allah dan RasulNya.” (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW juga mengingkari orangorang yang menyifatinya dengan sifat-sifat yang khusus milik Allah. Rasulullah SAW telah mengingkari perbuatan orang yang berkata: "Atas kehendak Allah dan engkau.” dengan sabdanya: “Apakah engkau hendak menjadikan aku dan Allah sebanding? Yang benar adalah hanya kehendak Allah semata." (HR. Ahmad). 

Begitu pula Rasulullah SAW mengingkari Rubayyi’ binti Mu’awwiz yang mengatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui apa yang akan terjadi kemudian. Beliau bersabda, 

Apa ini? Janganlah kalian mengatakan seperti itu. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian kecuali Allah.” (HR. Ibnu Majah). 

Sesungguhnya pengakuan mencintai Rasulullah SAW tidak berarti diperbolehkan untuk menyematkan sifat yang beliau larang, akan tetapi kecintaan kepadanya harus ditunjukkan dengan konsistensi dalam melaksanakan apa yang beliau perintahkan dan meninggalkan apa yang beliau larang. Allah berfirman yang artinya.

"Apa yang dibawa Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa yang dilarang Rasul kepada kalian maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr ayat 7).

 

 

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA