Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

China Klaim Aman dari Guncangan Ekonomi dan Desak AS Berbuat Banyak

Kamis 05 May 2022 23:49 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi. China yakin bisa menjadi stabilisator perekonomian dunia yang tengah ambruk

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi. China yakin bisa menjadi stabilisator perekonomian dunia yang tengah ambruk

Foto: pixabay
China yakin bisa menjadi stabilisator perekonomian dunia yang tengah ambruk

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING— Pemerintah China mengklaim sebagai tempat yang aman dan bisa menjadi stabilisator ekonomi dunia serta mendesak Amerika Serikat lebih banyak berbuat demi pemulihan bersama.

"Ekonomi China telah menjadi tempat perlindungan yang aman dan stabilisator bagi ekonomi dunia meskipun telah terjadi ketidakmenentuan dan instabilitas global," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China (MFA), Zhao Lijian, di Beijing, Kamis (5/5/2022). 

Baca Juga

Dia mendesak Amerika Serikat untuk lebih banyak bertindak memberikan manfaat pada pemulihan ekonomi dunia ketimbang memberikan sanksi unilateral, termasuk sanksi-sanksi baru terhadap beberapa perusahaan China.

Zhao mengeluarkan pernyataan tersebut untuk menanggapi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,6 persen atau turun 0,8 persen dibandingkan perkiraan sebelumnya.

"Ekonomi dunia sedang menghadapi masa suram karena dampak tambahan dari fluktuasi geopolitik dan virus corona selain situasi makro yang sedang dihadapi semua negara," ujar Zhao.

Dalam situasi seperti itu, lanjut dia, ekonomi China telah berkontribusi positif terhadap ekonomi dunia karena tren menuju pemulihan terus berlanjut dan ketahanannya teruji sebagaimana pencapaian pada kuartal pertama.

Pada kuartal pertama tahun ini, ekonomi China tumbuh 4,8 persen sebagaimana data Biro Statistik Nasional. Impor China juga naik 7,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 4,19 triliun yuan.

Hal itu menunjukkan China lebih banyak membeli produk-produk dari negara lain yang tentu saja menguntungkan negara-negara tersebut, demikian Zhao dalam pengarahan pers rutin tersebut.     

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA