Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Memendam Permusuhan Termasuk Kezaliman Besar, Ini Penjelasannya  

Kamis 05 May 2022 23:21 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Bersalaman saling memaafkan di hari Idul Fitri. (ilustrasi), Permusuhan yang diendapkan bisa berakibat fatal bagi sesama Muslim

Bersalaman saling memaafkan di hari Idul Fitri. (ilustrasi), Permusuhan yang diendapkan bisa berakibat fatal bagi sesama Muslim

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Permusuhan yang diendapkan bisa berakibat fatal bagi sesama Muslim

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ulama asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi menjelaskan tentang bahaya memendam permusuhan dan kebencian terhadap sama Muslim. 

Menurut Nursi, hal ini sudah dijelaskan di dslam Alquran.  Allah SWT berfirman:

Baca Juga

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ  "Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain." (QS Al Anam ayat 164) 

Menurut Nursi, ayat tersebut menjelaskan tentang keadilan mutlak (al-‘adalah al-mahdhah), yaitu tidak boleh menghukum seseorang atas kesalahan orang lain. 

"Ayat Alquran di atas dan berbagai sumber ajaran Islam lainnya menegaskan bahwa memendam permusuhan dan kebencian terhadap orang mukmin adalah kezaliman yang besar," kata Nursi dikutip dari karyanya yang berjudul “Misteri Puasa, Hemat, dan Syukur” terbitan Risalah Nur Press.  

Sebab, lanjut Nursi, permusuhan seperti mencela semua sifat-sifat baik akibat satu kesalahannya. Dia menjadi sebuah kezaliman yang lebih besar lagi jika permusuhan tersebut meluas terhadap keluarga dan kerabatnya. 

"Apakah setelah mendengar penjelasan tentang kezaliman di atas, engkau masih mempunyai alasan untuk memusuhi saudaramu seiman dan menganggap dirimu benar?," ungkapnya. 

Nursi mengatakan, harus diketahui bahwa dalam pandangan hakikat, kejahatan-kejahatan yang menjadi sebab timbulnya permusuhan dan kebencian bersifat padat, seperti tanah dan kejahatan itu sendiri. 

Menurut dia, sifat benda padat tidak berpindah dan tidak memantul pada yang lain, kecuali kejahatan yang ditiru seseorang dari orang lain. 

Sedangkan kebaikan yang menjadi sebab timbulnya rasa cinta bersifat halus, seperti cahaya dan cinta itu sendiri.  

Nursi menambahkan, sifat cahaya dapat berpindah dan memantul pada yang lain. Dari sinilah terlahir suatu pepatah, “Sahabat dari seorang sahabat juga merupakan sahabat.” Sebagaimana banyak orang sering mendengung-dengungkan, “Karena kebaikan satu orang, seribu orang dimuliakan.” 

"Wahai orang yang tidak adil! Jika engkau mendambakan kebenaran, itulah hakikat yang sebenarnya. Karena itu, permusuhan dan kedengkianmu terhadap keluarga dan kerabat yang dicintai orang yang engkau benci sangat bertentangan dengan kebenaran," jelas Nursi.      

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA