Kamis 05 May 2022 22:11 WIB

BPBD NTT Imbau Petani Hemat Air Hadapi Kemarau

Salah satu cara dengan menanam tanaman hortikultura yang tidak boros air.

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi
Seorang petani berjalan di atas lahan di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang, NTT, Rabu (26/5/2021). Lahan seluas dua hektare yang sempat terbentuk karena Siklon Seroja itu kini sudah mengering dan saat ini dijadikan sebagai lahan bertani bagi warga sekitar. BPBD NTT mengimbau para petani di daerah itu agar menghemat penggunaan air untuk menghadapi ancaman kekeringan di musim kemarau.
Foto: Antara/Kornelis Kaha
Seorang petani berjalan di atas lahan di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang, NTT, Rabu (26/5/2021). Lahan seluas dua hektare yang sempat terbentuk karena Siklon Seroja itu kini sudah mengering dan saat ini dijadikan sebagai lahan bertani bagi warga sekitar. BPBD NTT mengimbau para petani di daerah itu agar menghemat penggunaan air untuk menghadapi ancaman kekeringan di musim kemarau.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur Ambrosius Kodo mengimbau para petani di daerah itu agar menghemat penggunaan air untuk menghadapi ancaman kekeringan di musim kemarau.

"Para petani sudah harus mulai menghemat penggunaan air. Salah satu cara dengan menanam tanaman hortikultura yang tidak boros air," kata Ambrosius ketika dihubungi di Kupang, Kamis (5/5/2022).

Baca Juga

Ia mengatakan, hal itu berkaitan dengan persiapan menghadapi musim kemarau di NTT dan langkah yang perlu dilakukan para petani. Ambrosius mengatakan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis bahwa NTT sedang dalam masa peralihan dari musim hujan ke kemarau.

Untuk itu upaya mengantisipasi dampak kemarau berupa ancaman kekeringan perlu dipersiapkan dengan baik terutama bagi para petani agar tetap memproduksi tanaman pertanian. "Petani di wilayah zona musim yang sudah memasuki kemarau agar memanfaatkan air sebaik mungkin agar kegiatan produksi tetap berjalan," katanya.

Ambrosius juga mengimbau petani mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan terutama di saat membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar rumput atau dedaunan. Selain itu bagi masyarakat agar tidak membuang puntung rokok secara sembarangan yang dapat memicu munculnya titik api yang tidak terkontrol dan menyebabkan kebakaran yang meluas.

Ambrosius mengajak semua elemen masyarakat agar melakukan upaya-upaya meminimalkan dampak musim kemarau sehingga tidak menimbulkan kerugian besar. "Masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati dan menjaga lingkungan agar terhindar kebakaran hutan dan lahan," kata dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement