Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Erick Thohir: Produk Halal Kita Harus Jadi Nomor Satu Dunia

Kamis 05 May 2022 19:44 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Gita Amanda

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, sudah saatnya produk halal Indonesia menjadi nomor satu di dunia.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, sudah saatnya produk halal Indonesia menjadi nomor satu di dunia.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Indonesia tak boleh lagi hanya menjadi bangsa yang konsumtif, namun harus produktif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir tak ingin kekayaan sumber daya alam (SDA) dan market Indonesia yang besar terus menerus menjadi sumber bagi pertumbuhan ekonomi bangsa lain. Bagi Erick, sudah saatnya kekayaan alam dan market Indonesia menjadi sumber bagi pertumbuhan ekonomi bangsa sendiri.

Erick menyebut dunia pondok pesantren (ponpes) memegang peranan dalam mendorong kemandirian perekonomian umat dan bangsa. Erick ingin ponpes menjadi agen pembangunan yang aktif.

Baca Juga

Erick mengaku miris dengan posisi Indonesia yang tidak masuk 10 besar negara produsen industri halal terbesar dunia. Padahal, Indonesia negara dengan jumlah populasi muslim terbesar dan menempati peringkat empat dalam hal konsumen produk halal.

"Indonesia tak boleh lagi hanya menjadi bangsa yang konsumtif. Kita harus bergerak menjadi produktif. Produk halal kita harus menjadi nomor satu di dunia. Semua itu bisa kita capai asal kita mau bergerak bersama," ujar Erick saat menghadiri undangan khotmil quran dan silaturahmi ulama se-Pasuruan Raya, Kamis (5/5/2022).

Melalui BUMN, Erick berupaya melakukan perubahan paradigma dengan menggabungkan tiga bank syariah BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) yang memiliki total aset mencapai Rp 360 triliun dan menjadi bank terbesar ketujuh di Indonesia. Selain itu, Erick juga mendorong BUMN menciptakan banyak wirausaha baru dalam program Muslimpreneur.

"Ada yang bertanya, ngapain BUMN main-main ke ponpes. Setelah bank (BSI) jadi,  Muslimpreneur dibangun, ponpes merupakan mercusuar peradaban yang harus dibangun ekosistem ekonomi umat supaya untuk pertumbuhan ekonomi kita," ucap Erick.

Erick mengatakan Kementerian BUMN memiliki sejumlah program yang dapat dioptimalkan, khususnya oleh kalangan pesantren agar memiliki kemandirian ekonomi.

Pertama, Program BUMNU (Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama), yang dimulai dari pendirian 250 BUMNU baru tahun ini. Erick berharap BUMNU yang didampingi BUMN dapat menjadi faktor pendorong perekonomian umat berbasis pesantren. BUMNU adalah program kolaborasi antara BUMN dan unit usaha di bawah NU, yang diluncurkan pada akhir Februari 2022, saat peringatan hari lahir NU ke-99.

Kedua, Program Santripreneur dan Santri Magang di BUMN, yang diharapkan dapat memberdayakan para santri dalam pengembangan ekosistem bisnis dan ekonomi syariah melalui perspektif ilmu fiqih yang dikuasai. Ketiga, Program Pertashop yang mana pesantren bisa mengisi rantai distribusi produk Pertamina untuk mendorong kemandirian ekonomi dengan pengelolaan kolektif. Keempat, Program Makmur, yang dapat membina dan membantu petani maupun kalangan pesantren dalam pengembangan agribisnis. Dalam program ini petani mendapatkan pendampingan, akses pembiayaan dan hasilnya juga dibeli oleh BUMN," ucap Erick.

"Terakhir, BUMN memiliki program vokasi melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) di 15 pesantren sebagai percontohan. Lalu, program beasiswa pendidikan S2 yang dapat diikuti guru dan pengajar di pesantren," kata Erick menambahkan.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA