Kamis 05 May 2022 19:52 WIB

Inggris Cabut Status Bursa Efek Moskow

Keputusan tersebut akan menghentikan lebih banyak aliran uang ke aset-aset Rusia.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Dwi Murdaningsih
Kru pembersihan bekerja di lokasi ledakan di Kyiv, Ukraina pada Jumat, 29 April 2022. Penyerangan Rusia menyebabkan negara itu menerima berbagai sanksi ekonomi, Terbaru, Inggris mencabut status bursa efek Moskow.
Foto: AP/Emilio Morenatti
Kru pembersihan bekerja di lokasi ledakan di Kyiv, Ukraina pada Jumat, 29 April 2022. Penyerangan Rusia menyebabkan negara itu menerima berbagai sanksi ekonomi, Terbaru, Inggris mencabut status bursa efek Moskow.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Pemerintah Inggris telah mencabut status Bursa Efek Moskow sebagai bursa saham yang diakui, Kamis (5/5/2022). Hal itu berdampak pada dihapusnya beberapa keringanan pajak untuk investor baru.

"Dengan bursa saham Moskow gagal menarik pembatasan mereka pada investor asing, Inggris tidak punya pilihan selain menghapus statusnya yang diakui," kata Menteri Keuangan Inggris Lucy Frazer.

Baca Juga

Dia menjelaskan, keputusan tersebut akan menghentikan lebih banyak aliran uang ke aset-aset Rusia. “Ini pun mengirim pesan yang jelas bahwa tidak ada kasus untuk investasi baru di Rusia,” ucapnya.

Frazer telah mengumumkan rencana pencabutan status Bursa Efek Moskow bulan lalu. Langkah tersebut merupakan tanggapan atas pembatasan yang dikenakan Bank Rusia kepada investor-investor asing. Dalam konteks ini, Inggris mengutip peraturan Moskow pada 28 Februari lalu yang mencegah pialang menjual aset atas instruksi penduduk non-Rusia.

Inggris memberikan status yang diakui ke beberapa bursa. Hal itu memungkinkan sekuritas yang diperdagangkan di bursa tersebut mendapat manfaat dari keringanan pajak tertentu.

Tindakan terbaru Inggris tidak akan mempengaruhi investasi yang telah ada Bursa Efek Moskow. Namun investasi baru tidak lagi dapat memperoleh manfaat. 

Meski telah dijatuhkan sanksi ekonomi berlapis oleh Barat, Presiden Rusia Vladimir Putin sempat mengatakan, situasi perekonomian di negaranya stabil. “Rusia telah bertahan dari tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Situasinya stabil, nilai tukar rubel telah kembali ke level paruh pertama Februari dan ditentukan oleh keseimbangan pembayaran yang kuat secara objektif,” kata Putin pada 18 April lalu, dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Putin mengungkapkan, Bank Sentral Rusia juga mulai menurunkan suku bunga. “Ini tentunya akan membuat kredit dalam perekonomian lebih murah,” ujarnya.

Sejak melancarkan serangan militer ke Ukraina, Rusia sudah dijatuhi sanksi ekonomi berlapis oleh Barat. Banyak perusahaan asing, terutama dari Eropa dan Amerika, yang memutuskan menangguhkan atau bahkan menghentikan bisnisnya di Rusia.

Amerika Serikat (AS) bersama Uni Eropa dan Inggris juga mengeluarkan Rusia dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication atau SWIFT. Ia merupakan jaringan keamanan tinggi yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan di seluruh dunia. 

SWIFT memungkinkan bank untuk memindahkan uang dengan cepat dan aman, mendukung triliunan dolar dalam arus perdagangan serta investasi. Dikeluarkannya Rusia dari SWIFT dianggap sebagai hukuman ekonomi terberat. Dengan sanksi itu, Moskow menjadi lebih terisolasi secara ekonomi dibandingkan sebelumnya.

 

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement