Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Covid-19 Bisa Picu Penurunan Kognitif, Bikin Otak Menua 20 Tahun

Kamis 05 May 2022 11:54 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Penyintas Covid (Ilustrasi). Studi terbaru oleh peneliti University of Cambridge dan Imperial College London di Inggris menemukan adanya penurunan kognitif pada sebagian penyintas Covid-19.

Penyintas Covid (Ilustrasi). Studi terbaru oleh peneliti University of Cambridge dan Imperial College London di Inggris menemukan adanya penurunan kognitif pada sebagian penyintas Covid-19.

Foto: www.freepik.com.
Sebagian penyintas Covid-19 mengalami penurunan kognitif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi terbaru menemukan adanya penurunan kognitif pada sebagian penyintas Covid-19. Kondisi ini setara dengan penurunan kognitif yang terjadi ketika seseorang bertambah usia dari 50 tahun menjadi 70 tahun atau setara dengan penurunan 10 poin intelligence quotient (IQ).

"Sangat mungkin bila sebagian orang-orang ini tidak akan kembali pulih seutuhnya," jelas tim peneliti, seperti dilansir Express, Kamis (5/5/2022).

Baca Juga

Studi ini dilakukan oleh tim peneliti dari University of Cambridge dan Imperial College London di Inggris. Ada 46 orang penyintas Covid-19 yang dilibatkan dalam studi ini.

Seluruh penyintas yang terlibat sebagai partisipan ini pernah menjalani rawat inap di Addenbrooke's Hospital. Tim peneliti juga melibatkan individu sehat sebagai kelompok kontrol.

Selama studi berlangsung, para partisipan diminta untuk menjalani tes otak. Tes ini bertujuan untuk mengukur berbagai aspek, termasuk kemampuan daya ingat, atensi, dan pemikiran para partisipan.

Peneliti lalu membandingkan hasil tes para penyintas Covid-19 dengan hasil tes para individu sehat di kelompok kontrol. Hasil tes menunjukkan bahwa para penyintas Covid-19 memiliki tingkat akurasi yang lebih rendah dan tingkat akurasi yang lebih lambat dibandingkan kelompok kontrol.

Hasil yang paling rendah dimiliki oleh para penyintas  yang membutuhkan bantuan ventilator ketika sakit Covid-19. Defisit ini tampak masih terdeteksi sekitar enam bulan setelah para penyintas Covid-19 terpapar virus.

"Kami memantau sebagian pasien sampai 10 bulan setelah mereka terkena infeksi akut (Covid-19), jadi kami bisa melihat adanya perkembangan yang sangat lambat," jelas peneliti dari Divisi Anestesi di University of Cambridge Profesor David Menon.

Menurut Prof Menon, gangguan kognitif merupakan hal yang cukup umum ditemukan dalam berbagai kasus gangguan neurologis, seperti demensia dan bahkan penuaan alami. Akan tetapi, jejak gangguan kognitif yang berkaitan dengan Covid-19 merupakan hal yang berbeda.

"Namun, pola yang kami lihat, 'sidik jari' kognitif Covid-19 ini, berbeda dari yang lainnya," kata Prof Menon.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA