5 Hikmah Idul Fitri di Tengah Melandainya Covid-19

Red: Nashih Nashrullah

 Senin 02 May 2022 08:27 WIB

Anak-anak santri Masjid At Taufiq pawai obor menyambut Idul Fitri di Seyegan, Sleman, Yogyakarta, Ahad (1/5/2022) malam (ilustrasi). http://republika.co.id/berita//q98jz4320/amalan-sunnah-yang-akan-didoakan-puluhan-ribu-malaikat Foto: Wihdan Hidayat / Republika Anak-anak santri Masjid At Taufiq pawai obor menyambut Idul Fitri di Seyegan, Sleman, Yogyakarta, Ahad (1/5/2022) malam (ilustrasi). http://republika.co.id/berita//q98jz4320/amalan-sunnah-yang-akan-didoakan-puluhan-ribu-malaikat

Idul Fitri di masa pandemi menyisakan hikmah untuk perbaikan umat

Oleh : Prof Syihabuddin Qalyubi, guru besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

REPUBLIKA.CO.ID, —Dunia selama dua tahun berduka, karena terjangkit wabah Corona. Sebagai dampaknya, musibah global pun telah menimpa jagat raya, baik di bidang kesehatan, ekonomi, sosial dan politik, bahkan keagamaan. 

Musibah datang silih berganti sehingga dapat memperburuk kehidupan. Kesenangan berubah menjadi kesedihan, kesuksesan menjelma menjadi kegagalan, dan kebaikan pun bisa menimbulkan keburukan.

Baca Juga

Covid-19 telah merenggut banyak nyawa, sehingga menjadi permasalahan dunia. Setiap negara berlomba untuk menghentikan penyebarannya. Manusia banyak yang cemas karena keterlambatan pemerintah mereka dalam memberantas virus setelah mereka berpikir perkembangan ilmiah dan teknologi akan mengakhirinya.

Negara-negara besar yang  secara ekonomi dan finansial memiliki potensi luar biasa, tampak tidak mampu menghadapi makhluk yang sangat kecil itu. 

Kondisi sulit ini sangat mempengaruhi tata kehidupan sosial, banyak orang yang telah  kehilangan pekerjaannya, antara individu sosial masyarakat mengalami hambatan dalam berkomunikasi, proses belajar-mengajar mengalami banyak kendala. 

Ketika musibah datang menghampiri, kerapkali membuat kita terkejut (shock), tidak nyaman, serasa terluka dan sakit menyayat hati. Berbagai musibah yang terjadi, ada yang ringan, sedang, dan berat.

Jenisnya juga beragam. Karena terkena Covid-19 atau penyakit lain, orang jadi kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, hilang pekerjaan, terjadi KDRT dan bahkan kabar kematian pun datang bertubi-tubi. Untuk itu Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ. اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ 

“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian semua dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan; dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ūn." (QS al-Baqarah: 155- 156).

Ayat ini memberi informasi kepada kita, bahwa covid-19 yang telah menimpa kita harus diterima dengan kesabaran, dan semuanya dikembalikan kepada Allah SWT. Bahwa hidup kita milik Allah dan jika sudah dikehendaki Allah kita semua akan kembali kepada-Nya.

Dari sekian deretan musibah yang datang bertubi-tubi saling silih berganti, ternyata Allah SWT mengirimkan risalaah cinta kepada hambanya. Para ilmuwan menyatakan bahwa selama masa pandemi Covid-19 sejak awal 2020 lalu membuat lapisan ozon, yang selama ini menjadi ancaman untuk kesehatan manusia dan iklim, mengalami penurunan 15 persen secara global. Sudah barangtentu para ilmuwan di bidangnya bisa menjelaskan fenomena ini.

Sumber: Dalil Alquran dan Hadits yang Mengharamkan Praktik Riba

Setelah Covid-19 berlalu, ternyata di samping musibah yang memilukan itu, ada beberapa hikmah yang patut kita renungkan. Antara lain: 

1. Adanya percepatan transformasi pendidikan. Banyak muncul aplikasi pembelajaran online. Munculnya kreativitas tanpa batas, pengajar, dan peserta didik  terbiasa menggunakan media pembelajaran jarak jauh, misalnya email, WAG, Google Meet, Zoom, dan Google Classroom, yang dalam keadaan normal sangat sulit dapat tercapai secara massif

2. Aturan-aturan baru sebagai respons terhadap kondisi dan situasi pandemi ini membentuk kebiasaan baru bagi masyarakat yang bersifat positif, yaitu lebih patuh pada aturan, lebih aktif menjaga kebersihan diri dan keluarga, lebih sadar dan aktif melindungi keselamatan dan kesehatan diri dan orang lain. Manusia semakin terbiasa menjaga pola hidup sehatnya, makan yang bergizi, senang berolahraga, dan rajin memeriksa kesehatannya secara teratur 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X