Sabtu 30 Apr 2022 07:35 WIB

Pedagang Kaki Lima di Pelabuhan Samarinda Panen Rezeki dari Pemudik

Harga makanan di pelabuhan jauh lebih murah dibandingkan di atas kapal.

Penumpang berjalan turun dari Kapal Motor (KM) Gunung Dempo yang bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/4/2022). (Ilustrasi)
Foto: ANTARA/Didik Suhartono
Penumpang berjalan turun dari Kapal Motor (KM) Gunung Dempo yang bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/4/2022). (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA--Pedagang kaki lima di Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, panen rezeki dari pemudik yang akan naik kapal ke Sulawesi Selatan. Sebab, sebelum ke kapal, kebanyakan dari mereka membeli makanan, minuman, dan berbagai oleh-oleh.

"Kalau hari-hari biasa memang selalu ada yang laku baik minuman dalam kemasan, makanan ringan, maupun aneka oleh-oleh, tapi menjelang lebaran seperti sekarang, laris manis," ujar Fitri, salah seorang pedagang kaki lima di kawasan Pelabuhan Samarinda, Jumat (29/4/2022).

Baca Juga

Hari yang paling menyenangkan baginya adalah kemarin, Kamis (28/4/2022), karena saat itu penumpang yang akan naik Kapal Adhitya rute Samarinda-Parepare, jumlahnya sekitar 1.900 orang. Sebelum berangkat, banyak penumpang yang mampir di kiosnya.

Salah satu dagangannya yang paling laris adalah mi instan dengan kemasan gelas besar, karena konsumen tinggal menuangkan air panas dan mi siap disantap, apalagi garpu dan sendok sudah siap dalam mi instan gelas itu. Biasanya lanjut ia, mi instan jenis ini dalam sehari terjual antara 1-2 dus (satu dus berisi 24 gelas), tapi kemarin terjual sampai 20 dus.

Calon penumpang lebih suka membeli di pelabuhan ketimbang di kapal, mengingat di kapal harganya lebih mahal. Calon penumpang, katanya, ketika membeli mi instan gelas, tidak hanya untuk dikonsumi saat itu juga, namun banyak yang membeli untuk dimakan di kapal.

"Kalau di sini kan harganya murah, hanya Rp 15 ribu untuk dua mi instan gelas, tapi kalau di kapal kabarnya lebih mahal, saya dengar antara Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per satu gelas," katanya.

Di sekitar dia jualan terdapat enam lapak kaki lima. Ia mengatakan masing-masing lapak juga ramai pembeli ketika banyak calon penumpang yang akan naik kapal, apalagi menjelang lebaran seperti sekarang. Fitri yang mengaku sudah puluhan tahun jualan di kawasan pelabuhan itu melanjutkan, selain mi instan, komoditas lain yang sering laku. Seperti air mineral dalam kemasan, minuman ringan dalam kemasan, roti, dan aneka cemilan untuk sangu selama perjalanan di kapal.

Sedangkan untuk oleh-oleh, barang yang kerap dibeli pemudik adalah aneka jenis kerupuk mentah baik kerupuk ubi, kerupuk kentang, dan berbagai jenis kerupuk yang tidak dijual di Sulawesi. "Kerupuk siap konsumsi seperti amplang juga laris di sini, karena amplang ini khas Samarinda, di Sulawesi tidak ada, jadi pemudik sering membawakan oleh-oleh amplang untuk keluarga di kampung," katanya.

Berbagai jenis boneka mulai ukuran sedang hingga ukuran besar pun kerap terjual, karena pemudik selain ingin membawakan oleh-oleh untuk anaknya, boneka tersebut juga bisa dijadikan bantal selama dalam perjalanan. Hal yang unik lokasi lapak kaki lima ini adalah berada di luar kawasan pelabuhan yang dibatasi oleh pagar besi, sehingga pedagang harus menyerahkan barang ukuran besar lewat atas pagar ke pembeli, sementara barang ukuran kecil cukup diselipkan melalui sela pagar.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement