Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Bank Syariah Terus Topang Pemulihan Ekonomi

Senin 02 May 2022 22:35 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Esthi Maharani

Ekonomi syariah (ilustrasi)

Ekonomi syariah (ilustrasi)

Foto: aamslametrusydiana.blogspot.com
Perbankan syariah secara umum terus menopang pemulihan ekonomi nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Ekonomi Syariah Universitas Indonesia, Fauziah Rizki Yuniarti menyampaikan perbankan syariah secara umum terus menopang pemulihan ekonomi nasional. Meski demikian, masih ada bank-bank kecil yang perlu perhatian khusus karena masih dalam fase pemulihan internal.

"Bank-bank syariah besar tentu siap untuk mendukung pemulihan ekonomi meski masih ada tantangan seperti tekanan inflasi, tapi ada juga bank-bank kecil yang masih harus adaptasi memulihkan diri," katanya akhir April lalu.

Fauziah mengatakan, bank syariah secara keseluruhan tumbuh dengan baik meski dengan dukungan berbagai kebijakan. Proses restrukturisasi kredit dan pembiayaan yang merupakan kebijakan regulator sangat membantu kinerja keuangannya tetap positif.

Menurut dia, bank syariah masih tetap profit di tahun 2021 dan melanjutkan tren perbaikan di 2022. Sehingga secara umum, kesiapan industri sangat baik, termasuk dari sisi likuiditas. Modal kinerja baik tersebut, katanya, harus dioptimalkan, khususnya untuk pembiayaan ke sektor UMKM.

"Pemulihan ekonomi akan sangat terasa jika sektor UMKM tumbuh baik karena porsinya mencapai sekitar 61 persen PDB," kata Fauziah.

Bank syariah juga harus fokus pada memperbesar rasio pembiayaan ke sektor UMKM sesuai arahan dari regulator. Bank Indonesia (BI) telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 23/13/PBI/2021 tentang Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) yang mengharuskan rasio pembiayaan UMKM menjadi 30 persen.

"Kita harus lihat terus rasio pembiayaan ke UMKM ini oleh bank syariah, karena kadang masih ada yang tidak bisa mencapai ketentuan yang sebelumnya 20 persen," katanya.

Industri bank syariah perlu memenuhi peraturan juga untuk mendapatkan insentif berupa pengurangan ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM). Sehingga kondisi likuiditas bisa lebih longgar untuk penyaluran pembiayaan.

Fauziah menilai, sejumlah rasio perbankan syariah juga menunjukkan likuiditas bank syariah masih sangat siap untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan. Ia meyakini kemampuan ini tidak ada masalah untuk bank-bank besar.

"Bank-bank kecil masih perlu perhatian khusus karena masih struggling dan surviving the crisis, meski secara umum total masih sehat," katanya.

Fauziah mengatakan, perlu diperiksa kesehatan bank syariah satu per satu untuk memastikan agregat kesehatan industri. Bank-bank kecil ini biasanya masih masih kesulitan karena belum maksimal digitalisasi, keterbatasan modal sehingga infrastruktur masih perlu terus beradaptasi.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA