Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

PKB Harapkan Ada Tiga Paslon di Pilpres 2024

Sabtu 23 Apr 2022 12:49 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Indira Rezkisari

Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar mengharapkan Pilpres 2024 berjalan tanpa polarisasi dan gesekan besar.

Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar mengharapkan Pilpres 2024 berjalan tanpa polarisasi dan gesekan besar.

Foto: DPR RI
Tiga paslon pemilu bisa hindari gesekan tajam seperti di 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), berharap akan ada tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang. Dia tak ingin polarisasi seperti Pilpres 2019 kembali terjadi di Pilpres 2024 mendatang.

"Saya berharap, Pilpres yang akan datang itu setidaknya tiga calon lah, jangan dua calon. Supaya tidak mengkristalnya kayak tahun lalu," kata Muhaimin di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (22/4/2022) malam.

Baca Juga

Menurutnya potensi keterbelahan publik lebih besar terjadi jika hanya ada dua calon. Sementara itu jika Pilpres 2024 diikuti tiga calon maka basis isu akan lebih banyak.

Wakil ketua DPR itu mengajak semua pihak mengakhiri residu Pemilu 2019 lalu di bulan Ramadhan ini. Ia berharap tidak ada sisa polarisasi 2019 lalu di Pilpres 2024 mendatang.

"Kompetisi 2024 adalah lembaran baru, adu program dan adu logika serta adu cara kerja. Bukan lagi logika SARA atau yang lain," ujarnya.

Terkait koalisi, Cak Imin mengatakan PKB saat ini masih terbuka berkoalisi dengan siapa saja. Baginya PKB bisa berkoalisi di mana saja.

"Kita posisinya partai tengah yang religius-nasionalis, nasionalis-religius. Sangat mudah bisa masuk di mana-mana," ucapnya.

Namun demikian ia mengungkapkan sampai saat ini belum ada pembicaraan serius terkait pembentukan koalisi. Pembicaraan mengenai koalisi masih sebatas simulasi.

"Koalisi memang nol sekarang masih belum ada sama sekali, zero, nol semua hanya bisik-bisik, ketemu-ketemu antar bahkan sekarang melibatkan semua kalangan baik tengah atas bawah itu menjadi nyambung. Banyak sekali yang sudah sangat intens di daerah dibawa ke Jakarta, terus lebih bagus yang begini formatnya, tapi semua itu baru sebatas proses simulasi-simulasi," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA