Jumat 22 Apr 2022 16:47 WIB

Pembangunan Kota Sehat Rendah Emisi Perlu Digalakkan

Pembangunan kesehatan baik fisik, mental dan sosial akan jadi target pembangunan.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin
Pembangunan Kota Sehat Rendah Emisi Perlu Digalakkan (ilustrasi).
Foto: Dokumen.
Pembangunan Kota Sehat Rendah Emisi Perlu Digalakkan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Pembangunan perkotaan sebaiknya tidak cuma memperindah fisik kota. Tim Ahli Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Dr Sany Roychansyah menilai, harus memperhatikan pula sisi kesehatan warga secara fisik, mental dan sosial.

Kebijakan perencanaan pembangunan diarahkan dengan suasana kota yang lingkungan sehat dan asri, memperbanyak jalan untuk pedestrian, mengurangi volume kendaraan, menyediakan fasilitas olahraga dan menyiapkan sarpras untuk transportasi publik.

Baca Juga

Pembangunan kesehatan baik fisik, mental dan sosial akan jadi target pembangunan untuk ruang kota dan wilayah. Sedangkan, sarana transportasi sebagai penghubung manusia berkegiatan dan fundamental memberi arahan kontributif dalam perwujudan.

"Mewujudkan kota yang sehat itu dimana semua individu untuk saling mendukung dalam menjalankan semua fungsi kehidupan dan mengembangkan potensi mereka," kata Sany dalam webinar yang bertajuk Transportasi dan Perwujudan Kota sehat, Kamis (21/4/2022).

Dosen Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM ini  menekankan, pembangunan kesehatan perkotaan tidak hanya dilihat dari sisi kesehatan fisik saja. Tapi, dari kesehatan mental dan sosial kemasyarakatan.

"Bagaimana bisa mewujudkan masyarakat yang hidup rukun, saling mendukung sesama untuk maju bersama. Ini dampaknya sangat luas. Karenanya, melabeli sebuah kota sehat bukan kesehatan fisik, tapi dari sisi kesehatan mental dan sosial," ujar Sany.

Ia menyebut, penilaian pembangunan kota sehat ditentukan dari sisi lingkungan fisik dengan persentase 10 persen. Faktor sosial dan ekonomi mempengaruhi 40 persen, perilaku hidup sehat 30 persen dan fasilitas layanan kesehatan 20 persen.

Indikator kota sehat selalu diukur dari status kesehatan, faktor risiko, lingkup layanan dan sistem kesehatan. Memang tidak dipungkiri pengukuran individu dalam konteks ini indikator kesehatan, lebih banyak dari bidang ilmu kesehatan.

"Tapi, orientasi kota sehat perlu ditinjau ke karakteristik sosial, perencanaan spasial, kebijakan dan budaya," kata Sany.

Untuk memperkuat pembangunan kota sehat perlu mempertimbangkan kesehatan dalam perencanaan transportasi. Untuk mereduksi angka obesitas warga, mengurangi emisi kendaraan, mempromosikan kendaraan ramah lingkungan, sehingga masyarakat bisa hidup sehat.

Sektor transportasi bisa berpengaruh ke apa yang lakukan untuk mendukung konsep kota 15 menit, atau fasilitas kota bisa diakses dalam waktu singkat 15 menit. Selain transportasi publik, jalur transportasi kota diarahkan ke pedestrian.

"Ada zero carbon city, car free city, untuk mengurangi angka kendaraan dalam kota dan sebagainya. Lalu fasilitas olahraga di perkotaan juga perlu diperbanyak lewat konsep sport city," ujar Sany. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement