Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

Merdeka Institute: Elektabilitas Prabowo Makin Tinggi Jika Manfaatkan Medsos

Jumat 22 Apr 2022 00:47 WIB

Red: Bayu Hermawan

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Foto: Antara/Fikri Yusuf
Prabowo jadi tokoh yang dapat sentimen positif tertinggi dari netizen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga survei Merdeka Institute merilis survei lalu linyas percakapan netizen di dunia maya terkait calon presiden (Capres). Berdasarkan hasil survei, Prabowo Subianto menjadi capres dengan sentimen positif tertinggi di dunia maya.

Peneliti Senior Merdeka Institute, Mohammad Yafi NI, mengatakan berdasarkan analisis dari data media monitoring yang dilakukan pihaknya dalam 11 hari terakhir, Prabowo Subianto menjadi yang paling tinggi mendapat sentimen positif dari warganet. 

Baca Juga

"Sebanyak 25,4 persen dari total netizen yang mempercakapkan Prabowo cenderung menyampaikan ujaran positif tentang Ketua Umum Partai Gerindra itu, hanya 12,4 persen yang cenderung bernada negatif, dan sisanya 62,2 persen bersifat netral," ujar Yafi dalam keterangan tertulis, Kamis (21/4/2022).

Prabowo masuk top five atau lima bakal calon presiden (capres) teratas. Kandidat papan atas ini merupakan tokoh-tokoh yang bertengger dalam posisi lima besar di sejumlah lembaga survei arus utama. Selain Prabowo, ada nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Yafi menjelaskan, tingginya sentimen positif tentang Prabowo Subianto dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, kinerja positif Prabowo sebagai menteri terbaik dalam Kabinet Jokowi Jilid II ternyata cukup membuka mata publik mengenai totalitas Prabowo mengemban tugas negara. Kedua, sikap Prabowo yang jarang sekali mau terlibat dalam percakapan tentang capres 2024 diapresiasi publik sebagai sosok yang tidak ambisius nyapres

Ketiga, pernyataan-pernyataan Prabowo cenderung mengarah pada pencarian solusi daripada membangun kontroversi atas berbagai masalah nasional akhir-akhir ini. Berdasarkan analisis Merdeka Institute, selain memiliki sentimen positif tertinggi Prabowo Subianto mempunyai tingkat potential reach lebih tinggi dibandingkan capres lima besar lainnya. 

"Ini menegaskan bahwa Prabowo akan jauh lebih melesat sebagai capres 2024 apabila Ketua Umum Partai Gerindra itu mulai serius dan masif memanfaatkan internet dan berbagai platform media sosial untuk pembentukan opini publik," jelasnya.

Capres dengan sentimen positif terbaik kedua adalah Ganjar Pranowo. Sebanyak 20,6 persen dari total netizen yang mempercakapkan Ganjar cenderung menyampaikan ujaran positif. Namun jumlah percakapan yang bersentimen negatif tentang Ganjar mencapai 17,9 persen dan 61,5 persen percakapan bersifat netral. 

"Dengan kata lain, sentimen negatif terhadap Ganjar lebih tinggi dari Prabowo Subianto," ucapnya.

Sementara Anies Baswedan menempati posisi ketiga. Yafi mengatakan sebanyak 18,9 persen percakapan tentang Anies di dunia maya cenderung bernada positif dan 50,2 persen bersifat netral. Namun, Anies menjadi capres top five dengan sentimen negatif tertinggi. 

"Sebanyak 30,9% percakapan tentang Anies mengandung sentimen negatif, jauh di atas sentimen negatif capres papan atas lainnya," katanya.

Sedangkan Sandiaga Uno mendapatkan 18,84 persen bernada positif, 76, 11 persen bernada netral dan 5,06 persen bernada negatif. Kemudian Ridwan Kamil mendapat sentimen bernada positif dari warganet sebesar 10,48 persen. Lalu 87,48 persen bernada netral dan 2,04 persen bernada negatif.

Metodologi analisis dalam riset yang dilakukan Merdeka Institute kali ini menggunakan pendekatan natural language processing (NLP) untuk mengekstrasi opini dalam bentuk teks. Analisis menggunakan keyword nama-nama capres top five yang sering muncul dalam publikasi survei lembaga-lembaga riset mainstream. 

Dataset dikumpulkan mulai tanggal 9 hingga 20 April 2022. Penentuan periode analisis ini didasarkan pada beberapa event atau isu besar nasional, seperti demo mahasiswa, polemik 3 periode, dan kekerasan terhadap Ade Armando. Metode ekstraksi opini dilakukan dengan teknik knowledge discovery in data base (KDD). 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA