Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Kisah Akademisi Argentina Menjadi Mualaf Usai Kunjungi Masjid Biru

Jumat 22 Apr 2022 05:05 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Ani Nursalikah

 Umat Islam berkumpul di masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan masjid Biru di Istanbul, Turki, Rabu (17/6), untuk melaksanakan shalat tarawih. Kisah Akademisi Argentina Menjadi Mualaf Usai Kunjungi Masjid Biru

Umat Islam berkumpul di masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan masjid Biru di Istanbul, Turki, Rabu (17/6), untuk melaksanakan shalat tarawih. Kisah Akademisi Argentina Menjadi Mualaf Usai Kunjungi Masjid Biru

Perjalanan berikutnya ke Turki semakin memperkuat imannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada beragam sebab yang mendorong seseorang memeluk Islam. Ada sebagian orang menjadi mualaf karena mendengar, membaca dan mempelajari secara mendalam ayat-ayat Alquran.

Ada juga yang memeluk Islam karena pesan-pesan orang-orang saleh. Dan bagi Abel Buzarquis, Masjid Biru di Istanbul menjadi awal kisahnya menemukan hidayah dan menjadi mualaf. 

Baca Juga

Buzarquis adalah seorang akademisi Argentina yang mengajar psikologi di Buenos Aires. Ia tertarik dengan Islam ketika mengunjungi Istanbul lima tahun lalu.

Pria berusia 50 tahun yang merupakan keturunan Lebanon itu berasal dari keluarga Katolik yang taat. Ia mengaku selalu memiliki keraguan tentang iman orang-orang di sekitarnya sejak kecil.

"Saya dilarang komuni karena saya bertanya. Saya bertanya tentang selibat, tentang mengapa mereka tidak membantu orang miskin meskipun gereja memiliki emas, tetapi masih meminta umat untuk menyumbang, ketika saya berusia sembilan tahun," kata Buzarquis dalam sebuah sesi wawancara dengan Anadolu Agency (AA) di kantornya di Universitas Buenos Aires, seperti dilansir Daily Sabah, Kamis (21/4/2022). 

Pencarian imannya berubah pada 2017 ketika ia memutuskan mengambil penerbangan panjang ke Spanyol untuk menghadiri program pelatihan dengan singgah di Istanbul atas rekomendasi temannya. "Sepertinya sekarang itu adalah tiket sekali jalan. Saya meninggalkan hati saya di sana. Saya tidak berbicara bahasa Turki dan bahasa Inggris saya berkarat, tetapi saya tidak pernah merasa seperti orang asing selama berada di Istanbul," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA