Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

 

Ramadhan di Kampung Seberang Jambi

Kamis 16 May 2019 14:41 WIB

Red: Agung Sasongko

Ramadhan

Ramadhan

Foto: IST
Pengajian-pengajian masih ramai dikunjungi warga tiap pekan, apalagi selama Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Kampung Seberang, Provinsi Jambi, menyimpan budaya yang sangat kaya. Ratusan rumah panggung masih berdiri kokoh di kawasan yang terletak di seberang Sungai Batanghari itu. Dengan tiket perahu yang murah, hanya Rp 2.000, tidak sulit untuk menjangkaunya.

Di sini, rumah-rumah kayu berjejer dari jembatan Batanghari hingga empat desa berikutnya. Pengunjung punya banyak pilihan untuk menentukan mana yang akan lebih dahulu dikunjungi: sentra pengrajin batik, makam tua, atau rumah-rumah kayu yang menjadi tempat tinggal warga Jambi dan komunitas Arab Melayu sejak beratus-ratus tahun lalu.

Hanya, sulit untuk tak mengacuhkan pesona kawasan rumah tua. Tidak kurang dari 500-an rumah tua berdiri di lima desa Kecamatan Arab Melayu. Semuanya panggung, berbahan kayu. Tiang kayu bulian berdinding kayu tem besi membuat rumah-rumah itu ter lihat sangat kokoh.

Tidak heran kalau salah satu pemilik rumah, Herianto, mengklaim bahwa rumahnya sudah berumur tidak kurang dari 120 tahun. Ini bisa bertahan sampai 500 tahun lagi, ujar Herianto saat berbincang dengan Republika di Dusun Mudung Laut, Desa Pelayangan, Olak Kemang, Jambi.

Ukiran bermotif flora mendominasi rumah-rumah itu. Ukiran itu menjadi bukti peninggalan warisan kalangan Arab Melayu yang memang melarang ukiran bermotif fauna. Cerita datangnya orang Arab Melayu sendiri berawal sekitar tiga abad lalu.

Syahdan, pendatang Arab datang ke daerah di Seberang Sungai Batanghari mulai abad ke-17. Kebanyakan mereka datang untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Seiring berjalannya waktu, mereka pun berbaur dengan masyarakat dan ikut tinggal dalam perkampungan.

Penjajah Belanda yang kejam membuat para warga Arab Melayu ikut mengangkat senjata. Di ujung abad 17, seorang syeikh memimpin perlawanan melawan Belanda. Itu berdampak pada pelarangan orang Arab Melayu di kota. Mereka tidak diizinkan pergi ke mana pun oleh Belanda, selain beraktivitas di Kampung Seberang.

Di bawah kekuasaan Residen Sultan Bayang, pengawasan dilakukan dengan sangat ketat agar orang Arab Melayu tidak bergerak ke kota. Karena letaknya rendah, jadi dari kota mudah diawasi.

Tanda komunitas ini masih terlihat menyolok dengan masih banyaknya keturunan Arab Melayu yang tinggal. Tidak hanya itu, nama-nama desa di Kampung Seberang pun masih menggunakan bahasa Melayu asli, seperti Johor Baru dan Yahyul Yaman. Kesan itu di perkuat dengan nama salah satu kecamatan, Arab Melayu.

Selain taat menjaga tradisi, warga Kampung Seberang juga terkenal religius. Pengajian-pengajian masih ramai dikunjungi warga tiap pekan, apalagi selama Ramadhan. Tarawih dan tadarus mendominasi aktivitas warga. Setiap kepala keluarga pun bergiliran mengirim makanan ke mushala di pusat desa untuk berbuka bersama.

Herianto menjelaskan, perwakilan ke luarga akan mendatangi mushala untuk berbuka. Mereka akan menyantap hi dangan yang sudah tersedia di nampan. Ragamnya banyak. Kue kampung, nasi minyak, sampai tempoyak tersedia di hidangan gratisan ini. Me nurut dia, ritual itu dijalankan untuk menjaga budaya kekeluargaan antar mereka.

Hanya Herianto mengeluh. Agak sulit saat ini bagi warga Kampung Seberang untuk mengantar tempoyak ikan patin. "Susah. Ikan di sungai sudah nggak ada lagi. Ikannya diracun, ujar Herianto saat berbincang dengan Republika di rumahnya, belum lama ini

Selain itu, tuturnya, pemuda kampung seberang sudah mulai larut dalam budaya kota. Menurut dia, barang-barang terlarang sejenis narkoba tidak lagi sulit ditemukan di kampung itu. Ironis. Pemuda dari rumah-rumah tua pun turut menyumbang angka pengguna narkotika di Jambi yang sekarang berada di peringkat enam.

Sumber : Khazanah Ramadhan Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA