Wali dan Kolak: Akulturasi Dakwah Dalam Sepotong Takjil

Red: Muhammad Subarkah

 Kamis 30 May 2019 12:03 WIB

Kesamaan rumpun etnis melayu membuat makanan yang sama seperti di Jakarta bisa ditemukan di tempat ini, tidak terkecuali kolak. Foto: Daniel Chan/AP Kesamaan rumpun etnis melayu membuat makanan yang sama seperti di Jakarta bisa ditemukan di tempat ini, tidak terkecuali kolak.

Kolak merupakan bagian dari akulturasi dakwah para wali

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis Buku

Salah satu menu pembuka ifthar yang paling legendaris khas Indonesia adalah kolak. Semangkuk hidangan bercita rasa manis.

Berkuah santan. Berisi pisang, potongan ubi, dan kolang-kaling. Rasa manisnya dari gula jawa dengan wangi aroma daun pandan.

Karena saya bukan penyuka makanan manis, jadi saya tidak terlalu suka kolak. Tapi kalau Lambang suka. Ia selalu mencari kolak untuk takjil.

photo
Kolak Pisang
Dalam sejarahnya, kolak merupakan bagian dari akulturasi dakwah para Wali. Pada waktu itu banyak cara digunakan untuk mendekatkan Islam pada masyarakat yang masih lekat dengan kepercayaan lama. Melalui kuliner salah satunya.

Nomenklatur kolak berasal dari kata khalik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, khalik bermakna Sang Pencipta.

Bahan-bahan yang terkandung di dalamnya juga menyiratkan nilai filosofis. Seperti pisang kepok yang digunakan sebagai salah satu bahan, berasal dari kata kapok. Yang bermakna taubat dalam bahasa Jawa.

Awalnya kolak tidak dihidangkan sebagai hidangan di bulan Ramadhan. Melainkan hidangan di bulan Sya’ban. Atau satu bulan menjelang Ramadhan.

Seiring bergulirnya waktu, hidangan ini menjadi menu “wajib” buka puasa. Tak hanya di Jawa, namun menyebar ke seluruh nusantara dengan bermacam variannya.

Mengapa hidangan manis yang dipilih?

Ini sebenarnya bagian dari akulturasi tadi. Secara halus Islam mencoba memasukkan nilai-nilainya, tanpa “mengusik” tradisi yang sudah ada sebelumnya.

photo
Kue Gullac khas dari Turki
Tersebut dalam hadist, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthob (kurma basah), maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” [HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3: 164]

Kurma merupakan makanan dengan banyak manfaat kesehatan yang menyertai. Kadar gulanya yang tinggi dapat mengembalikan energi yang terkuras dengan cepat setelah seharian berpuasa.

Konsep menghadirkan makanan dengan kadar gula tinggi supaya energi segera kembali inilah yang coba diadopsi melalui kearifan kuliner lokal.

Tak hanya di Indonesia. Takjil bercita rasa manis ini juga diadopsi di banyak budaya dan negara.

Di Afrika, ada takjil yang disebut aseeda. Terbuat dari tepung gandum yang disajikan dengan butter dan madu. Kudapan ini sangat digemari di Sudan.

photo
Kue Qatayef khas dari Jordan
Di Jordan, takjil manis yang paling populer disebut qatayef. Semacam pancake yang diolah dengan kayu manis, lalu diisi dengan adonan kacang kenari dan gula.

Ada pula puding manis yang terbuat dari air sari mawar yang disebut gullac. Biasanya disajikan dingin dengan topping buah-buahan atau kacang-kacangan di atasnya. Takjil manis ini menjadi hidangan favorit di Turki.

Ada benang merah yang menarik dari beragam hidangan manis yang dihadirkan sebagai takjil di berbagai belahan bumi.

Menggambarkan akulturasi dakwah Islam yang sangat lembut. Tanpa pemaksaan. Bahkan melalui sepotong takjil yang manis.

Selamat berbuka puasa. Hari ini, siapkan takjil apa?

 

Follow me on IG @uttiek.herlambang. Tulisan dan foto-foto ini telah dipublikasikan di www.uttiek.blogspot.com dan akun media sosial @uttiek_mpanjiastuti

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X