Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

 

Menjaga Tradisi Kuno Saat Ramadhan di Hijaz

Jumat 24 May 2019 03:20 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Muhammad Hafil

Di Hijaz, Arab Saudi, Ramadhan menjadi momentum untuk meneruskan adat istiadat yang unik dan signifikan.

Di Hijaz, Arab Saudi, Ramadhan menjadi momentum untuk meneruskan adat istiadat yang unik dan signifikan.

Foto: Arabnews.com
Ramadhan menjadi momentum meneruskan adat istiadat yang unik.

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH – Bagi banyak umat Muslim, Ramadhan merupakan bulan khusus untuk ibadah dan perayaan. Di Hijaz, Arab Saudi, Ramadhan menjadi momentum untuk meneruskan adat istiadat yang unik dan signifikan. Tradisi kuno di kawasan tersebut tetap hidup meski pergantian generasi terus terjadi.

Hijaz merupakan wilayah di sebelah barat Arab Saudi. Wilayah ini lebih dikenal sebagai tempat terletaknya kota suci Mekkah dan Madinah. Oleh karena itu, Hijaz mempunai kepentingan dalam lanskap sejarah dan politik Arab dan Islam.

Dilansir di Arab News, Sabtu (18/5), warga Hijaz dikenal sebagai masyarakat yang dermawan dan ramah. Mereka akan menyediakan penginapan bagi banyak jamaah yang hendak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Mekkah ataupun Madinah. Penginapan tersebut biasa disediakan oleh para pedagang kaya dari perkotaan.

Penduduk Hijaz, terutama Mekah dan Madinah, akan menyambut para peziarah ke rumah mereka dan menyediakan tempat tinggal sepanjang tahun. Rumah mereka memang dirancang mengakomodasi unit perumahan khusus untuk tamu di halaman mereka. Fitur arsitektur ini diadopsi dari Suriah dan Levant.

Keluarga-keluarga Madinah disebut Muzawareen, dari kata ‘Zeyara’ yang berarti kunjungan dalam bahasa Arab. Mereka biasa menyambut pengunjung yang akan datang berkunjung ke makam dan masjid Nabi. Sementara itu, masyarakat Mekkah yang melakukan hal serupa kerap disebut sebagai Mutawafeen. Istilah itu dambil dari kata tawaf, salah satu ritual ziarah Islam selama haji dan umrah.

Seluruh keluarga akan menyiapkan dua set hidangan yang sama untuk para tamu dengan keluarga di rumah sepanjang tahun, tidak terkecuali saat Ramadhan. Sebab, kedermawanan merupakan cri khas Hijaz.

Tepat sebelum adzan Magrib berkumandang di Mekah dan Madinah, masyarakat biasa pergi ke Holy Mosques untuk berbuka puasa. Rumah mereka banyak berada di dekat masjid. Mereka membawa tas berisikan makanan untuk diberikan kepada para peziarah dan jamaah yang berada di sekitar masjid.

Kantong-kantong tersebut termasuk berisikan roti shouraik Ootman, kurma dan dugga, rempah-rempah yang terbuat dari jintan, garam, biji wijen dan ketumbar. Sudah menjadi kebiasaan di Madinah untuk berbuka puasa dengan mencelupkan kurma ke dalam dugga dan memakannya dengan sepotong roti. Kopi atau yoghurt dingin kerap kali menjadi pelengkap.

Melayani para jamaah sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat sejak zaman nenek moyang bertahun-tahun lalu. Bahkan, beberapa keluarga yang sudah lama menampung jamaah haji mendirikan perusahaan untuk layanan tersebut. Tujuannya, agar mereka dapat memberikan layanan terbaik untuk jamaah yang ingin melakukan ibadah haji dan umrah.

Para tetua di Hijaz masih ingat, bagaimana perempuan muda biasa mengumpulkan dan menyiapkan makanan di bulan Ramadhan secara bersama-sama. Mereka akan meminta tolong kepada suami, saudara laki-laki ataupun anak laki-laki ke pasar untuk membeli bahan-bahan tertentu guna masakan dan jus spesial.

Beberapa bahan yang masuk dalam daftar belanja adalah air mawar dari kelopak mawar segar dan jus bunga kembang sepatu untuk penghilang dahaga saat berbuka puasa. Kendi tanah liat baru untuk menyimpan air Zamzam, gandum dan biji-bijian juga kerap tertulis dalam daftar.

Dari berbagai menu, ful mudammas merupakan hidangan yang dianggap sebagai ‘raja meja’.  Mudammas sendiri merupakan metode memasak di mana kacang fava didiamkan dalam pot, dimasak perlahan selama berjam-jam, kemudian dihaluskan. Masyarakat Hijaz biasa menghidangkannya dengan roti Afghani, tameez atau roti shouraik tradisional.

Di tengah hidangan, air Zamzam selalu tersedia. Air suci ini biasa disajikan dalam kendi tanah liat dan cangkir kecil yang disebut cangkir tutuwah.

Malam Ramadhan di Hijaz selalu tenang dan sunyi, dipenuhi dengan lantunan bacaan Alquran dari para jamaah. Tapi, tidak sedikit juga pria dan wanita muda menikmati malam panjang dengan berkumpul bersama teman dan keluarga sembari menikmati secangkir teh mint panas.

Baca Juga

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES