Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

 

Memandikan Gamelan di Pura Mangkunegaraan

Rabu 14 June 2017 19:02 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Yudha Manggala P Putra

Pura Mangkunegaraan memulai Jamasan Gongso, yakni sebuah tradisi tahunan membersihkan gamelan-gamelan bersejarah. Jamasan, dilakukkan di taman bagian dalam pura Mangkunegaraan pada Rabu (14/6) siang.

Pura Mangkunegaraan memulai Jamasan Gongso, yakni sebuah tradisi tahunan membersihkan gamelan-gamelan bersejarah. Jamasan, dilakukkan di taman bagian dalam pura Mangkunegaraan pada Rabu (14/6) siang.

Foto: Republika/Andrian Saputra

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO --- Pura Mangkunegaraan memulai Jamasan Gongso, yakni sebuah tradisi tahunan membersihkan gamelan-gamelan bersejarah. Jamasan, dilakukkan di taman bagian dalam pura Mangkunegaraan pada Rabu (14/6) siang.

Sejumlah abdi dalem Mangkunegaraan terlihat sibuk membersihkan tiap set gamelan secara bergantian. Gamelan di rendam dan dicuci dengan menggunakan air yang sebelumnya telah dibacakan doa-doa khusus kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik sinar matahari.

Pengageng Mondropuro atau Kepala Bagian Umum Pura Mangkunegaraan, Suproyanto Waluyo mengatakan jamasan Gongso merupakan tradiai tahunan turun temurun yang dilaksanakan khusus pada bulan puasa. Selain untuk menghormati peninggalan-peninggalan bersejarah, jelas dia, jamsan mempunyai filosofi yang dapat diambil oleh masyatakat. Yakni tentang upaya untuk membersihkan jiwa melalui puasa Ramadhan.

“Setelah setahun penuh, Ramadhan momennya untuk membersihkan. Agar kita terlahir kembali suci. Untuk Jamsan Gongso ini, gamelan tidak boleh berbunyi dan dibunyikan sampai malam selikuran atau 21 Ramadhan, sebab itu abdi dalem juga sangat hati-hati,” tuturnya.

Ada sembilan set gamelan di pura mangkubegaraan. Di antaranya yakni gamelan kyai Kenyut Mesem, gamelan kyai Lipur asih, gamelan kyai Windu Segoro, gamelan kyai Pamedarsih dan gamelan kyai Basworo.

Selain itu terdapat juga gamelan kyai Udan Asih, gamelan kyai Mardiswara, gamelan kyai Nogo Limo, gamelan kyai Precet serta gamelan kyai Tombo Ning. “Jika assyuro dillaksanakan jamasan pusaka-pusaka, untuk Ramadhan adalah gamelan,” katanya.

Sementara itu Mangkunegaraan juga mulai berbenah membersihakan setiap sudut ruangan dan taman. Sebab pada moment libur hari raya, pura Mangkunegaraan menjadi salah satu lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan yang berlibur di Solo. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pentas Seniman Bandung Peduli Lombok

Selasa , 14 August 2018, 23:59 WIB