Jumat, 16 Zulqaidah 1440 / 19 Juli 2019

Jumat, 16 Zulqaidah 1440 / 19 Juli 2019

 

Puasa sebagai Terapi

Kamis 16 Mei 2019 09:22 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Tampil sehat (Ilustrasi)

Tampil sehat (Ilustrasi)

Foto: Google
Hal yang mesti diperhatikan dalam puasa sebagai terapi adalah keseimbangan gizi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof H.M. Hembing Wijayakusuma (1940-2011)

Secara medis, puasa dapat dijadikan sebagai terapi untuk pengobatan jasmani (fisik). Misalnya, untuk mengatasi stroke, kolesterol tinggi, stres, depresi, pengerasan, pembuluh darah, serta tekanan darah tinggi dan rendah. Selain itu, diabetes, kanker hati, kanker lambung, hepatitis, perdarahan otak, ginjal, atau radang tenggorokan.

Baca Juga

Masih banyak lagi. Untuk menyebutkan di antaranya ialah radang hidung, radang amandel, radang kandungan kemih, radang usus kronis, radang persendian, dan radang lambung kronis. Kemudian, luka usus, nyeri syaraf, nyeri persendian, TBC paru-paru, bronchitis kronis, batu empedu, atau flu dan asma. Selanjutnya, varises, kegemukan, kekurusan, disentri, malaria, katarak, gonorhea, sypilis, epilepsi, susah tidur, dan lain-lain.

Selain itu, puasa juga dapat digunakan sebagai terapi atas penyakit reumatik, penyakit wanita (kelainan peranakan, radang saluran indung telur, radang ovarium, tumor leher rahim), maag, wasir, sembelit, pusing, alergi, biduran eksim, dan rasa kesemutan.

Dalam menjaga kecantikan, puasa ternyata berpotensi menghilangkan flek-flek hitam dan jerawat pada wajah.

Mekanisme terapi puasa untuk pengobatan dan kesehatan adalah berat badan turun, meningkatkan fungsi organ, memblokir makanan terhadap virus, penyakit dan bakteri, menambah sel darah putih, meningkatkan metabolisme, menghilangkan racun dan ampas kotoran, menyeimbangkan asam basa dan alkali, meningkatkan imunisasi, membasmi kuman, meningkatkan daya serap makanan, serta meningkatkan stamina tubuh.

Terapi puasa juga dapat meningkatkan jaringan pencernaan secara konsekuen. Umumnya orang hanya dapat menyerap gizi dari makanannya sebanyak 35 persen. Namun, setelah orang berpuasa, penyerapan gizi dapat mencapai 85 persen. Bagi penderita maag dan usus buntu, gaestrosis, gangguan pencernaan, mereka dapat sembuh sendiri karena sampah dalam perut dibersihkan.

 

***

Yang perlu diperhatikan adalah kondisi kesehatan yang prima adalah sangat tepat bagi seseorang dalam menunaikan ibadah puasa. Idealnya begitu.

Namun, yang mengidap penyakit tertentu, seperti diabetes, jantung, darah tinggi atau tekanan darah rendah, sepanjang kuat dan mampu, pengidapnya tidak dilarang untuk menjalankan puasa.

Jika dalam waktu antara terbit fajar dan terbenam matahari tubuh merasa tidak kuat, Allah Maha Pemurah, maka puasa boleh diakhiri demi kesehatan.

Bahkan, puasa bisa menjadi haram hukumnya jika tetap diteruskan, sementara kondisi tubuh lemah.

Yang perlu diperhatikan dalam puasa adalah "keseimbangan gizi", dan ini memerlukan sikap pengendalian diri.

Pentingnya keseimbangan gizi ini sering kurang disadari karena hasilnya tidak terlihat langsung. Seseorang yang kekurangan zat gizi tertentu sama bahayanya dengan kelebihan zat gizi tertentu pula.

Misalnya, kekurangan protein akibat kurang dalam mengonsumsi ikan, telur dan susu, bisa menurunkan kadar sel albumin pada plasma sel, kulit mengeriput akibat hilangnya simpanan lemak di bawah kulit, respon saraf kurang, berat badan turun dan lamban dalam bergerak.

Sebaliknya. Bila kelebihan dalam mengonsumsi protein, dapat menyebabkan obesitas dan penyumbatan pembuluh darah. Sementara, kekurangan karbohidrat menyebabkan banyak jaringan dalam tubuh rusak. Namun, kelebihan karbohidrat pun mengakibatkan produksi asam oleh bakteri berlebih. Karena itu, penting menjaga kondisi kesehatan tetap prima, keseimbangan gizi perlu dijaga.

Sumber : Pusat Data Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES