Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

 

Tazkiyatun Nafs Menjelang dan Selama Puasa Ramadhan (1)

Jumat 03 Mei 2019 19:10 WIB

Rep: Umi Soliha/ Red: Hasanul Rizqa

Ustaz Salim A Fillah

Ustaz Salim A Fillah

Foto: salingsapa.com
Puasa Ramadhan menjadi momen yang baik untuk tazkiyatun nafs

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tazkiyatun nafs dapat dimaknai sebagai membersihkan hati dan jiwa dari dorongan bermaksiat. Sebagai seorang Muslim, kalbu yang bersih adalah bekal yang ideal untuk dapat meraih ridha Ilahi. Apalagi, dalam beberapa hari lagi umat Islam akan menerima tamu nan agung, bulan suci Ramadhan.

Baca Juga

Menurut Ustaz Salim A Fillah, ada tiga perkara dalam hati yang seyogianya disisihkan ketika taskiyaun nafs. Dia menyebut, ketiganya juga merupakan "makanan setan yang terlezat." Karena itu, insan yang beriman akan sia-sia mengusir godaan setan kalau ketiganya masih bercokol di dalam kalbu. Apa saja itu?

 

Sombong

Ustaz Salim menegaskan, seorang yang beriman hendaknya tidak menganggap diri lebih hebat daripada orang lain. Kesombongan adalah jalan yang berbahaya, apalagi bila dikaitkan dengan ibadah.

“Agar tidak merasa dirinya besar melampaui orang lain, Rasulullah pernah bersabda, 'Tidak akan masuk surga sesorang jika di dalam hatinya terdapat kesombongan, meskipun sebesar biji zarah (sebesar biji sawi -Red),” papar Ustaz Salim A Fillah saat mengisi kajian di Masjid Asy-Syifa RSCM, Jakarta Pusat, kemarin.

photo
Tabligh akbar Ustaz Salim A. Fillah dengan tema Tazkiyatun Nafs di Masjid Asy - Syifa RSCM, Jalan Kimia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (2/5).

Kesombongan juga menyasar orang-orang yang berilmu. Karena itu, pendakwah tersebut berpendapat, sikap rendah hati lebih baik diterapkan. Dengan begitu, seseorang tak akan menganggap dirinya lebih pintar daripada orang lain. Siapapun yang memiliki perasaan membanggakan diri--dengan mengerdilkan peran orang lain--maka peluang kesombongan tumbuh di dalam hatinya.

Pada saat itulah, perlu sekali melakukan tazkiyatun nafs. "Pernah ada seseorang ulama yang bertanya seperti ini kepada sahabatnya, 'Apakah hal yang, meskipun benar, tetap salah?' Namun, para sahabatnya tidak ada yang bisa menjawab. Lalu ulama itu menjawab, 'Yaitu memuji diri sendiri,'" tutur Ustaz Salim.

"Perkara yang akan menghancurkan diri adalah mengagumi diri sendiri," simpul dai muda itu.

Seperti apa tazkiyatun nafs untuk menyingkirkan kesombongan dalam hati? Dia lantas menjelaskan beberapa langkah ikhtiar untuk itu. Pertama, mengakui kebenaran dari manapun datangnya.

Bisa saja kebenaran diucapkan oleh seorang musuh. Kalaupun demikian, insan yang berhati bersih akan menerimanya. Sebab, kebenaran adalah mulia. Menerima kebenaran menjadi sesuatu yang dianjurkan.

Kedua,  jangan membanding-bandingkan ihwal materi. Menurut Ustaz Salim, ukuran duniawi semisal pangkat, suku, paras, kekayaan, dan lain-lain tak bisa menjadi patokan kemulian seseorang.

Dalam agama Islam, kemuliaan seorang insan tergantung pada iman dan ketakwaannya kepada Allah.

"Takwa adanya di hati, tidak ada yang bisa melihatnya, sehingga yang harus manusia lakukan adalah berlomba-lomba untuk menjadi orang yang bertakwa dan tidak meremehkan orang lain," jelas dia.

(Bersambung)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA