Wednesday, 11 Zulhijjah 1439 / 22 August 2018

Wednesday, 11 Zulhijjah 1439 / 22 August 2018

 

Menjauhi Dehidrasi Kulit Selama Puasa

Selasa 08 May 2018 22:56 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadan/ Red: Muhammad Subarkah

Puasa Ramadhan (ilustrasi)

Puasa Ramadhan (ilustrasi)

Kekurangan asupan cairan juga dapat memicu terjadinya dehidrasi kulit.

REPUBLIKA.CO.ID, Meski jarang disadari, dehidrasi merupakan salah satu masalah yang bisa dialami oleh kulit. Kondisi ini dikenal sebagai dehidrasi kulit.

Dehidrasi kulit dapat dikenali melalui beragam gejala. Beberapa gejala di antaranya adalah kulit terasa kering, kasar, kusam dan bahkan bersisik.

"Sering kita anggap sebagai masalah kulit kering, ini sebenarnya tanda awal dehidrasi kulit," terang Medical Advisor PT Galenim Pharmasia Laboratories dr Ratna Purnamasari dalam peluncuran Facial Bar dan Body Butter Oilum, di Jakarta.

Meski kerap dianggap sama, dehidrasi kulit pada dasarnya berbeda dengan kulit kering. Kulit kering merupakan kondisi di mana keseimbangan kadar minyak pada kulit terganggu sehingga kadar minyak pada kulit di bawah normal. Sedangkan dehidrasi merupakan kondisi di mana kadar air pada kulit kurang dari jumlah yang dibutuhkan.

Dehidrasi kulit dapat menyebabkan tekstur kulit mengalami perubahan dan elastisitas kulit menurun. Akibatnya, garis-garis halus dan kerutan pada wajah akan mulai bermunculan.

Masalah dehidrasi kulit bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah usia. Dehidrasi kulit juga bisa dipicu oleh paparan polusi, penggunaan sabun yang bersifat alkali dan tingkat stres.

Aktivitas sehari-hari juga dapat menjadi penyebab timbulnya masalah dehidrasi kulit. Aktivitas yang dimaksud meliputi beraktivitas lama di dalam ruangan ber-AC atau beraktivitas lama di bawah paparan sinar matahari.

Kekurangan asupan cairan juga dapat memicu terjadinya dehidrasi kulit. Di sisi lain, kekurangan asupan cairan biasanya cukup mudah dialami ummat Muslim ketika menjalani ibadah puasa selama Ramadhan.

Kekurangan cairan selama berpuasa dapat memicu terjadinya dehidrasi kulit. Oleh karena itu, perlu siasat yang tepat agar dehidrasi kulit dapat dihindari selama menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh.

Salah satu siasat yang bisa dilakukan adalah memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi selama berpuasa. Secara umum, setiap orang membutuhkan asupan air putih minimal delapan gelas per hari. Jumlah ini bisa dibagi untuk sahur dan berbuka.

"Tiga gelas pertama saat bangun mempersiapkan sahur sampai imsak, saat buka sampai waktu tidur bisa dibagi lima kali pemberian cairan sisanya," jelas Ratna.

Selain memastikan asupan cairan tetap terpenuhi, kegiatan berwudhu juga dapat membantu para Muslim yang berpuasa untuk menjaga kondisi kulit tetap lembap. Agar maksimal, aplikasikan body lotion secara berulang setiap kali selesai wudhu. Kandungan dalam body lotion akan lebih mudah diserap ketika kulit masih dalam kondisi lembap.

"Kuncinya adalah berulang (mengaplikasikan body lotion atau pelembap)," papar Ratna.

Jika dehidrasi kulit sudah terjadi, upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan hidrasi pada kulit. Hidrasi adalah upaya untuk mengikat air di lingkungan sekitar kulit demi menjaga keseimbangan kadar air pada kulit.

Upaya hidrasi kulit bisa dilakukan dengan mengaplikasikan produk perawatan kulit khusus yang memiliki formula hydro rebalance system. Formula ini dirancang untuk merehidrasi kembali kulit sekaligus menjaga keseimbangan hidrasi alami kulit.

"Hidrasi lebih dari sekedar melembapkan," terang Ratna.

Kulit Kering Lebih Rentan

Jenis kulit juga turut mempengaruhi risiko seseorang untuk mengalami dehidrasi kulit. Jenis kulit yang lebih rentan mengalami masalah dehidrasi kulit adalah jenis kulit kering.

Ratna mengatakan kulit yang kering akan membuat kelembapan pada kulit ikut berkurang. Akibatnya, air di kulit akan lebih mudah untuk keluar dari tubuh. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mempermudah terjadinya dehdirasi kulit.

"Begitu alami kulit kering, tolong dirawat, jangan sampai jatuh ke tahap dehidrasi (kulit)," terang Ratna.

Dalam kesempatan berbeda, spesialis kulit dan kelamin, dr Sari Chairunnisa SpKK, mengungkapkan beberapa cara untuk merawat kulit kering dengan baik. Upaya perawatan kulit kering ini terdiri atas tiga hal utama yaitu pembersihan wajah, kelembapan dan perlindungan dari sinar matahari.

"Sebenarnya untuk semua tipe kulit," terang Sari saat ditemui di Plataran Darmawangsa, Jakarta.

Dari segi pembersihan wajah, Sari mengatakan individu yang memiliki kulit kering perlu lebih selektif dalam memilih sabun cuci muka. Secara umum, Sari mengatakan ada dua jenis sabun cuci muka yang bisa ditemukan di pasaran yaitu sabun cuci muka soap-based dan surfactant-based.

Sabun cuci muka soap-based  bisa dikenali dari ciri-ciri mudah berbusa dan meninggalkan kesan kesat pada kulit. Sebaliknya, sabun cuci muka surfactant-based tidak begitu berbusa ketika digunakan dan terkadang meninggalkan kesan agak licin pada kulit.

"Kulit kering itu harusnya yang surfactant-based," jelas Sari.

Sari mengatakan sabun cuci muka yang menghasilkan banyak busa cenderung memiliki kadar pH yang tinggi sehingga tidak begitu sesuai dengan pH kulit. Namun, orang Indonesia sangat terbiasa dengan sabun yang berbusa dan meninggalkan kesan kesat pada kulit.

"Itu yang dianggap bagus, padahal nggak semua tipe kulit bisa cuci muka dengan sabun seperti itu setiap hari," pungkas Sari.

Dari segi menjaga kelembapan, Sari mengatakan individu dengan masalah kulit kering perlu mengaplikasikan pelembap lebih rutin. Sari mencontohkan, Apabila individu berkulit normal cukup mengaplikasikan pelembap di pagi hari saja, individu dengan masalah kulit kering bisa menambah frekuensi dengan mengaplikasikan pelembap di pagi dan malam hari.

Jenis pelembap yang dipilih juga sebaiknya pelembap yang diproduksi khusus untuk kondisi kulit kering. Individu dengan kulit kering sebaiknya menghindari pelembap yang memiliki kemampuan untuk mengontrol sebum.

"Kalau (cuaca) lagi kering kayak gini, bisa ditambahkan serum," ungkap Sari.

Individu dengan tipe kulit kering juga perlu memperhatikan proteksi kulit dari paparan sinar ultraviolet. Sari mengatakan paparan sinar matahari dapat membuat kulit lebih cepat mengalami penuaan. Penuaan pada kulit akan membuat kulit menjadi kering.

Penggunaan tabir surya merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet. Tabir surya yang digunakan juga perlu disesuaikan dengan lingkungan tempat tinggal.

"Kalau di Indonesia, SPF 30 (minimal)," tukas Sari.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES