Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

 

Yuk, Ajari Anak Berpuasa

Jumat 02 Jun 2017 13:45 WIB

Red: Agung Sasongko

Anak Berpuasa

Anak Berpuasa

Foto: Republika/Yasin Habibi

Oleh: Taufiq Munir, ketua Tidim Hongkong

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masih ada Ibu rumah tangga merasa kesulitan menerapkan kewajiban puasa bagi anak-anak.  Tentunya, anak-anak yang belum akil-baligh tidak wajib berpuasa.

Tapi tidak ada salahnya jika anak-anak sejak dini dilatih berpuasa. Ini penting, agar di kemudian hari dia tidak terlalu merasa kesulitan melaksanakan kewajiban saat mereka dewasa.

Karena itu, diperlukan trik yang tepat untuk melatih anak-anak beribadah, khususnya berpuasa.  Syekh Ibrahim Ridha, salah seorang imam masjid dan pengajar di Wizaratul Awqaf Mesir mengatakan, “kaum ibu harus membiasakan anak-anaknya berpuasa, walaupun tidak harus satu hari penuh.”

Menurut Ridha, puasa bagi anak kecil bisa dilakukan secara bertahap. Misalnya dimulai dengan mengajaknya berpuasa hingga Zuhur. Inipun masih ijtihadi (usaha alternatif), bukan keharusan.

Ibu-ibu juga bisa memulainya dengan mengkomunikasikannya secara langsung, berdialog dengan arif kepada si kecil sebelum tiba bulan Puasa. Misalnya membicarakan tentang kemuliaan bulan Ramadhan dan menjelaskan mengapa orang-orang banyak yang tidak makan dan minum pada bulan itu.

Dengan demikian si kecil akan berpikir mengapa dirinya tidak puasa?

Lalu setelah bulan puasa tiba, kita bagi-bagi. Pada hari itu si anak berpuasa hanya satu jam, setelah itu dua jam, lalu bertambah tiga jam. Begitu seterusnya sampai satu hari penuh pada hari berikutnya. Dengan begitu puasa akan terpatri dalam dirinya menjadi satu kebiasaan.

Dalam satu riwayat Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah anak-anakmu mendirikan sholat pada usia tujuh tahun. Dan sentillah mereka ketika berusia sepuluh tahun”.

Secara tekstual Hadis itu menggunakan “wadhribuuhum” (pukullah mereka). Ahli fiqih menambahkan bighairi mubarrih (pukulan yang tidak bikin “bareuh”, atau melukai). Karenanya saya lebih setuju kalau anak-anak cukup disentil saja anggota badannya.

Menyangkut shalat, kita latih anak-anak kita dari umur tujuh tahun hingga sepuluh tahun. Kalau puasa, kita latih anak-anak sejak usia mendekati masa pubertas. Hikmah yang bisa kita petik dari latihan tersebut agar anak-anak terbiasa sam'an wa tho'atan (dengar dan taat terhadap Rabb-nya), sehingga kebiasaan-kebiasaan itu bernilai ibadah.

Dan kelak apabila mereka sudah pubertas, kebiasaan yang berubah menjadi ibadah itu menjadi kewajiban yang tidak lagi memberatkan. Sedangkan “anak-anak” yang sudah dewasa dan tidak membiasakan diri puasa dan sholat sejak kecil tidak perlu menggunakan cara pelatihan seperti ini.

Anak kecil sejatinya tidak perlu dipaksa puasa. Tetapi anak kecil yang “normal” akan mengikuti kebiasaan bapak-ibunya yang berpuasa. Dengan demikian terbuka lebar peluang orang tua untuk memberinya semangat puasa hingga “usia wajib puasa”, sebagaimana firman Allah swt:

“diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”. (QS. Al-Baqarah: 183).

Oleh karena itu bagi para orang tua ajarilah anak-anak berpuasa, dimulai setengah hari sampai satu hari penuh hingga sempurna satu bulan. Dengan demikian puasa tidak lagi menjadi perkara yang sulit dilakoni anak-anak tercinta yang merupakan anugerah dan amanah dari Allah swt.


  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA