Senin, 3 Zulqaidah 1439 / 16 Juli 2018

Senin, 3 Zulqaidah 1439 / 16 Juli 2018

 

Mengoptimalkan Kerja Otak Saat Puasa

Jumat 17 Juni 2016 16:07 WIB

Rep: Aprilia Safitri Ramdhani/ Red: Indira Rezkisari

Masyarakat menikmati tajil saat berbuka puasa di Masjid Raya Bandung, Selasa (7/6). (Republika/Edi Yusuf)

Masyarakat menikmati tajil saat berbuka puasa di Masjid Raya Bandung, Selasa (7/6). (Republika/Edi Yusuf)

Foto: Republika/Edi Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika berpuasa, sebagian organ di tubuh mengalami beberapa perubahan seperti di lambung misalnya. Pada satu minggu pertama puasa, organ inilah yang paling terasa perubahannya mengingat kerja organ ini sangat bergantung pada makanan atau minuman yang kita konsumsi sehari-hari.

Meski begitu, ternyata tidak hanya organ lambung saja yang memiliki perubahan ketika berpuasa. Organ lain seperti otak juga mengalami perubahan, meskipun tidak berubah secara signifikan dan fungsinya masih tetap sama layaknya kerja otak saat tidak berpuasa.

Menurut dokter ahli bedah saraf dari Mayapada Hospital dr. Roeslan Yusni Hasan, SpBs mengungkapkan, sebaiknya ketika berpuasa kita tetap perlu menjaga kesehatan otak. Sebab, ketika kerja otak menurun maka akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari.

Memilih makanan yang dikonsumsi pada saat sahur dan berbuka menjadi salah satu kunci yang dapat membuat kerja otak tetap berfungsi normal meski berpuasa. Perubahan gaya hidup seperti menghindari rokok juga penting dilakukan, agar puasa dapat berjalan lancar dan tidak mengalami kendala kesehatan tertentu.

"Saat berpuasa, pola makan kita berubah terlebih saat tiba waktunya untuk berbuka rasanya ingin menyantap semua makanan yang dihidangkan. Padahal, tanpa disadari kerusakan otak banyak dipengaruhi oleh cara makan yang tidak baik dan perilaku tak sehat seperti merokok," katanya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Roeslan mengatakan otak merupakan identitas diri dari seorang manusia sehingga fungsinya pun tidak bisa tergantikan. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan organ tubuh lain seperti organ liver atau ginjal yang bisa didonorkan atau digantikan orang lain, namun apabila otak diganti atau didonorkan tentu tidak akan pernah bisa.

Untuk itu, ketika berpuasa agar fungsi kerja otak tetap bekerja secara optimal, kebutuhan akan zat glukosa dan oksigennya harus dipenuhi dengan baik. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi otak yang bisa didapatkan dari karbohidrat dan protein.

Keberadaan glukosa sendiri sangat berpengaruh pada proses psikologis. Bila kadar glukosa rendah, beberapa kondisi yang membutuhkan upaya mental maksimal, seperti pengambilan keputusan, berpikir logis, atau kontrol diri akan ikut terganggu. Dalam hal ini, glukosa merupakan sumber tenaga yang membantu kerja otak dan sistem saraf.

"Selama berpuasa glukosa akan menurun, berdampak pada asupan ke otak sehingga bisa mengganggu kerja otak. Untuk itu kesehatan otak harus dijaga dengan mengonsumsi makanan sehat saat berbuka puasa," jelasnya.

Sementara oksigen sangat dibutuhkan otak agar dapat menjalankan fungsinya, kurangnya ketersediaan oksigen dapat memiliki dampak negatif pada fungsi otak. Sebab, sel-sel otak sangat rentan terhadap perubahan pasokan oksigen, apabila otak kekurangan oksigen maka dapat membahayakan jiwa seperti koma atau kematian otak bisa muncul gangguan lain yang mempengaruhi pasokan oksigen ke otak untuk jangka waktu lama.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES