Abu Ayyub Al Anshari yang Mencintai Konstatinopel

Rep: c 38/ Red: Indah Wulandari

 Selasa 16 Jun 2015 17:01 WIB

Lukisan kota Konstantinopel saat dibangung Kaisar Konstantin Foto: smithsonianmag.com Lukisan kota Konstantinopel saat dibangung Kaisar Konstantin

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Tidak salah jika sutradara film Fetih 1453, Faruk Aksoy menjadikan sosok sahabat Rasulullah SAW Abu Ayyub Al Anshari sebagi plot pembuka. Lantaran Al Anshari  atau Khalid ibn Zaid adalah seorang sahabat terkemuka di kalangan Anshar. Ia mendapat kehormatan untuk menerima Rasulullah di rumahnya saat hijrah.

Abu Ayyub tak pernah meninggalkan panggilan jihad, baik dalam perang Badar, perang Uhud, perang Khandaq, ataupun semua peristiwa perang lain. Ia terkenal dengan semangat At Taubah ayat 41, “Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan maupun berat.”

Hanya sekali Abu Ayyub tertinggal dalam peperangan, saat ia tidak sepakat dengan penunjukkan seorang pemuda Muslim sebagai panglima. Akan tetapi, penyesalan atas sikapnya itu tak pernah berhenti.

Ketika terjadi perselisihan antara Ali dan Muawiyah, Abu Ayyub berpihak kepada Ali tanpa ragu. Saat Ali gugur, Abu Ayyub memilih hidup menyendiri bersama jiwanya yang zuhud, teguh, dan takwa.

Namun, panggilan jihad datang lagi kepada sahabat mulia ini ketika pasukan Muslim bergerak menuju Konstantinopel. Ia pun kembali menghunus pedang.

Dalam perang ini, Abu Ayyub terluka parah. Panglima pasukan, Yazid bin Mu’awiyah, bertanya, “Apa yang kau inginkan, wahai Abu Ayyub?"

Di luar dugaan, Abu Ayyub memiliki satu permintaan yang mungkin tak masuk akal. Ia meminta agar jasadnya dibawa di atas kudanya sendiri ke tempat terjauh yang memungkinkan di negeri musuh. Ia juga ingin sang Panglima menggiring pasukannya sepanjang jalan itu hingga ia bisa mendengar derap langkah kaki kuda kaum Muslim di atas makamnya.

Sungguh, permintaan yang visioner.

Penduduk Romawi Konstantinopel selalu memandang Abu Ayyub di makam itu laksana memandang orang suci, bahkan sebelum Islam menguasai wilayah tersebut.

Meski sepanjang hayat ia habiskan waktu di tengah kecamuk perang, jiwanya senantiasa tenang. Itu lantaran ia selalu ingat satu hadits Rasulullah, “Jika engkau menunaikan shalat, shalatlah seperti orang yang hendak berpamitan. Jangan pernah kau ucapkan kata-kata untuk beralasan. Istiqamahlah dalam sikap putus asa terhadap segala hal yang ada di tangan manusia.”

Hari ini, Abu Ayyub telah terbaring di tanah ia impikan, tanpa dentingan pedang atau ringkikan kuda. Yang ia dengar kini, sejak pagi hingga petang, adalah indahnya suara adzan dari menara-menara masjid yang menjulang.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X