Abdurrahman bin Abu Bakar, Sang Mujahid Sejati (2-habis)

Red: Chairul Akhmad

 Rabu 18 Jun 2014 11:21 WIB

 Abdullah bin Abu Bakar merupakan lukisan nyata tentang kepribadian Arab dengan segala kedalaman ilmunya. Foto: Amolife.com Abdullah bin Abu Bakar merupakan lukisan nyata tentang kepribadian Arab dengan segala kedalaman ilmunya.

REPUBLIKA.CO.ID, Di bawah naungan Islam, sifat-sifat utama Abdurrahman bertambah tajam dan lebih menonjol.

Kecintaan dan keyakinannya serta kemauan yang teguh untuk mengikuti apa yang dianggapnya hak dan benar, merupakan sari hidup dan permata kepribadiannya.

Ia tiada terpengaruh sedikit pun oleh suatu pancingan atau tekanan. Bahkan pada saat yang amat gawat, ketika Muawiyah memutuskan hendak memberikan baiat khalifah kepada Yazid dengan menggunakan ketajaman senjata.

Muawiyah mengirim surat kepada Marwan, gubernurnya di Madinah, dan menyuruh untuk membacakannya kepada kaum Muslimin di masjid.

Marwan melaksanakan perintah itu, namun belum selesai ia membaca, Abdurrahman bin Abu Bakar bangkit dan berkata, "Demi Allah, rupanya bukan kebebasan memilih yang anda berikan kepada umat Nabi Muhammad SAW, tetapi anda hendak menjadikannya kerajaan seperti Romawi sehingga bila seorang kaisar meninggal, tampillah kaisar lain sebagai penggantinya."

Saat itu Abdurrahman melihat bahaya besar yang sedang mengancam umat Islam, seandainya Muawiyah melanjutkan rencananya itu. Belum lagi selesai Abdurrahman melontarkan kecaman keras ini kepada Marwan, ia telah disokong oleh segolongan Muslimin yang dipimpin oleh Husein bin Ali, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Umar.

Di belakang hari muncul beberapa keadaan mendesak yang memaksa Husein, Ibnu Zubair dan Ibnu Umar berdiam diri terhadap rencana baiat yang hendak dilaksanakan Muawiyah dengan kekuatan senjata ini.

Namun, Abdurrahman tidak putus asa menyatakan batalnya baiat tersebut secara terus terang. Tatkala diketahuinya setelah itu bahwa Muawiyah sedang bersiap-siap akan melakukan kunjungan ke Madinah, Abdurrahman segera meninggalkan kota itu menuju Makkah.

Rupanya iradah Allah akan menghindarkan dirinya dari bencana dan akibat pendiriannya ini. Karena baru saja ia sampai kota Makkah dan tinggal sebentar di sana, ia wafat.

Orang-orang mengusung jenazahnya di bahu-bahu mereka dan membawanya ke sebuah dataran tinggi kota Makkah lalu menguburkannya di sana; di bawah tanah yang telah menyaksikan masa Jahiliyahnya, dan juga telah menyaksikan masa keislamannya. (dinukil dari 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni)




BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X