Sunday, 18 Zulqaidah 1440 / 21 July 2019

Sunday, 18 Zulqaidah 1440 / 21 July 2019

 

Usia Tepat Belajar Puasa

Rabu 24 Jul 2013 14:16 WIB

Rep: rosita budi suryaningsih/ Red: Damanhuri Zuhri

Berpuasa

Berpuasa

Foto: futurity.org

REPUBLIKA.CO.ID,

Usia anak-anak adalah periode tingginya aktivitas motorik yang sangat menguras tenaga.

Saat Ramadhan tiba, melihat orang tua, saudara, dan orang-orang di sekitarnya telah berpuasa, tentu anak-anak juga penasaran ingin ikut berpuasa.

Kekhawatiran kadang muncul, para orang tua takut buah hatinya tak kuat berpuasa, bisa sakit, atau bisa berpuasa, tapi nanti menganggu pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

Ada juga orang tua yang berlomba-lomba agar anaknya bisa sanggup berpuasa sedini mungkin, baik dengan dilatih berpuasa setengah hari atau langsung puasa penuh.

Tak jarang orang tua berusaha memberikan bujukan dan menggelontorkan hadiah bagi putranya yang sukses berpuasa penuh dalam usia yang masih hijau.

Sebenarnya, berapa usia yang paling tepat sang anak dibolehkan berpuasa? Islam mengajarkan, paling tidak anak bisa berpuasa ketika ia berusia enam atau tujuh tahun.

Jika sudah berusia tujuh tahun, tapi sang anak belum belajar berpuasa karena manja, sang orang tua berhak memberikan hukuman.

Berdasarkan ilmu tumbuh kembang, ahli pangan dan gizi dan Institut Pertanian Bogor Prof Hardinsyah mengatakan, puasa memang perlu dilatih sejak anak-anak. “Paling tidak, ketika sudah TK fisiknya mampu untuk belajar berpuasa,” ujar Hardinsyah.

Dalam usia sekitar lima tahun, menurutnya, sang anak sudah bisa diajarkan berpuasa. “Tapi, ini masih proses belajar,” kata Hardinsyah mewanti-wanti.

Orang tua bisa mengajarkan untuk berpuasa setengah hari dulu atau bisa juga berpuasa penuh, tapi ia berpesan agar tidak memaksakan.

Lihat dulu kemampuan si kecil. Jika memang tak mengeluh lapar dan haus, juga tak mengalami gangguan kesehatan, bisa ditingkatkan untuk semakin sore buka puasanya.

Di usia ini, yang peling penting adalah pendidikan untuk mengenalkan puasa. Anak-anak bisa ikut merasakan apa itu puasa dan orang tua pun bisa menjelaskan mengapa kita perlu melakukan puasa, apa manfaatnya, dan apa nilai lebihnya jika menjalankan puasa.

Tidak perlu harus menuntut sang buah hati bisa puasa full selama sebulan. Di usia lima tahun ini, sekali lagi, merupakan ajang belajar saja.

Karena itu, bisa saja anak hanya berpuasa sepuluh hari selama Ramadhan. Orang tua juga bisa mengajarkan selang-seling, satu hari berpuasa setengah hari, hari berikutnya puasa full, atau tidak berpuasa. Ini bergantung pada kondisi sang anak dan melihat aktivitas apa saja yang dilakukannya.

Paling berat bagi pendidikan puasa anak ini, menurutnya, adalah ketika sahur. Tak hanya sulit membujuk anak untuk bangun kala dini hari, tapi juga tak gampang membuat anak mau mengunyah makanan yang ada.

Karena itu, orang tua perlu memberikan bujukan yang baik bagi anak-anak, misalnya, dengan menyediakan hidangan kesukaan atau makanan yang dibentuk dengan karakter yang menjadi kesukaan anak.

Berbahayakah puasa bagi anak-anak? Menurut Hardinsyah, selama sang anak tidak memperlihatkan gangguan kesehatan atau penurunan berat badan yang sangat signifikan, tidak masalah. Pemenuhan nutrisi, misalnya, susu bisa diberikan saat malam hari.

Memang, usia anak-anak adalah masa yang penuh dengan aktivitas motorik yang sangat menguras energi. Jangan sampai terlalu memaksa anak untuk berpuasa, padahal dapat membahayakan kesehatan fisiknya.

Penanda yang paling mudah, semakin jarang anak merasa lapar, secara fisik anak sudah siap dilatih berpuasa penuh.

Jika sejak lima tahun sudah diberikan pendidikan untuk belajar berpuasa, insya Allah, dalam waktu dua tahun sesudahnya, sang anak sudah sanggup berpuasa penuh.

Hardinsyah mengakui, kadang kekuatan agama berada di luar logika. “Karena yakin berpuasa atas nama Allah, bisa sanggup menjalankan,” ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES