Pentingnya Tingkatkan Kualitas Zikir

Red: Agung Sasongko

 Selasa 21 Jun 2016 23:21 WIB

Alquran dan Dzikir (ILustrasi) Alquran dan Dzikir (ILustrasi)

Oleh: Nasarudin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasulullah SAW telah mengisyaratkan agar pengamalan zikir dilembagakan dan amalkan secara terukur menjadi wirid. Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, kumpulan hadis-hadis shahih yang disusun oleh Imam Al-Nawawi dan hingga saat ini menjadi salah satu kitab wajib di pondok-pondok pesantren di Indonesia disebutkan sebuah riwayat bahwa suatu ketika para pekerja dan pelayan menghadap kepada Rasulullah SAW untuk diajari sesuatu yang bisa membuat dirinya setara dengan tuannya yang bukan hanya melakukan ibadah, melainkan juga bersedekah dan berinfak. 

 

Sedangkan, kami para pekerja dan pelayaan hanya bisa beribadah, tetapi tdak punya kemampuan untuk bersedekah dan berinfak. Rasulullah SAW mengajari mereka dengan zikir: Jika kalian membaca subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing tiga kali seusai shalat fardhu maka kedudukan kalian sama dengan tuan-tuan kalian di mata Allah SWT. 

Para pekerja dan pelayan mengamalkan wirid itu setiap usai shalat fardhu. Tuan-tuan para pekerja dan pelayan mengamati kebiasan baru karyawannya, akhirnya mereka juga mengamalkan wirid itu. Kelompok pekerja dan pelayan kembali mendatangi Rasulullah SAW mengadukan kalau tuannya juga mengamalkan hal yang sama. 

Mereka meminta sesuatu yang lain agar nanti di akhirat tidak kalah dengan tuan-tuannya. Rasulullah SAW menjawab, "Sesungguhnya Allah memberi petujuk kepada siapa yang dikehendakinya." Hadis ini mengisyaratkan pentingnya meningkatkan kualitas zikir menjadi wirid. Wallahua'lam.

Dari segi bahasa, zikir berasal dari akar kata dzakara-yadzkuru-dzikran yang berarti menyebut, mengucapkan, mengagungkan, menyucikan, dan mengingat. Dzikrullah biasa diartikan berarti menyebut-nyebut (nama) Allah SWT seraya mengingat-Nya. 

Sedangkan, wirid berasal dari akar kata warada-yaridu-wuruda, wirdun berarti datang, sampai, mendatangi, menyebutkan. Wirid seakar kata dengan wardah yang berarti bunga mawar. Kata zikir dan wirid dari segi bahasa memiliki makna yang sama, yaitu menyebut atau menyucikan. 

Dalam pengertian populer, zikir lebih banyak berarti penyebutan dan penyucian nama Allah SWT, sama dengan pengertian populer dari wirid. Termasuk makna zikir dan wirid ialah membaca Kalam Allah, yakni Alquran. Keduanya juga sama-sama bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bedanya, hanya dari segi ketentuan penyebutan dan pengungkapan. 

Zikir biasanya tidak ditentukan jumlah, waktu, dan tempat pelaksanaannya. Kapan pun dan di mana pun bebas menjalankan zikir. Sementara, wirid biasanya ditentukan jenis, jumlah, waktu, dan ketentuan pengamalannya. Bacaan yang dibaca pada waktu zikir tidak ditentukan, bergantung apa yang dihafal atau apa yang dikuasainya. Sedangkan, wirid sudah ditentukan jenis bacaan, tidak bisa ditawar panjang pendeknya. Wirid inilah yang lebih memerlukan alat bantu, seperti tasbih, buku-buku, dan amalan-amalan tertentu. 

Tentu, yang lebih baik ialah wirid. Zikir terkesan temporer, dilakukan saat hati sedang dalam keadaan khusus (mood), misalnya ketika seorang sedang menghadapi masalah, mempunyai hajat lebih besar, atau sedang dalam bahagia dan mengungkapkan rasa syukurnya dalam bentuk berzikir. 

Jika tidak dalam keadaan bahagia, bisanya zikir dilakukan seadanya atau tidak sama sekali. Sedangkan, wirid lebih bersifat permanen dalam keadaan apa pun dan di mana pun, selalu mengamalkan rutinitas wiridnya. Jika ia meninggalkan wiridnya, seperti meninggalkan sebuah kewajiban, ada sesuatu yang kurang. Dengan demikian, ahli wirid lebih kuat ketimbang ahli zikir.

Di dalam Alquran, zikir dan wirid sangat dianjurkan sebagaimana disebutkan dalam ayat: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS al-Ra'd [13]:28). 

Ayat ini menginformasikan bahwa zikir dan mengingat Allah SWT akan menenteramkan hati. Dalam ayat lain, Allah SWT memberikan informasi lebih lanjut: Wasabbihu bukratan wa ashila (Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang). (QS al-Ahdzab [33]:42). Ayat pertama menyerukan zikir dan ayat berikutnya menyerukan untuk meningkatkan zikir menjadi wirid.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X