Lacak Glukosa Darah Selama Ramadhan (1)

Rep: Indah Wulandari / Red: Chairul Akhmad

 Kamis 03 Jul 2014 06:59 WIB

Melacak glukosa darah. Foto: Amilionlives.net Melacak glukosa darah.

REPUBLIKA.CO.ID, Penderita diabetes perlu melakukan tes kadar gula darah dalam tubuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Umat Muslim wajib menunaikan ibadah puasa Ramadhan, tapi bagaimana dengan penderita penyakit diabetes tipe satu yang tergantung pada suntikan insulin setiap hari?

Jalan keluarnya, dengan melacak glukosa darah terlebih dahulu sebelum memutuskan berpuasa. "Jenis diabetes ini lebih sulit untuk dikontrol gula darahnya. Dalam keseharian, mereka membutuhkan insulin. Jenis diabetes melitus ini biasanya sudah timbul pada anak-anak," kata guru besar Endokrinologi FKUI/ RSCM Prof Dr dr Pradana Soewondo SpPD-KEMD.

Hasil penelitian menunjukkan pola makan yang berubah selama berpuasa bisa menimbulkan risiko komplikasi bagi pasien diabetes tipe dua. Di antaranya, rendahnya kadar gula darah (hipoglikemia), meningkatnya kadar gula darah (hiperglikemia), pembekuan darah, dan dehidrasi.

Bila seseorang penderita diabetes jenis ini benar-benar berniat puasa, Prof Pradana menyarankan agar ada pemantauan bersama dokter spesialis terhadap kadar glukosa darah harian. Sehingga, pasien selalu mengetahui kondisinya mampu berpuasa atau tidak hari itu.

Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) pertumbuhan ekonomi nasional yang terus membaik bisa memicu terjadinya peningkatan jumlah penderita diabetes melitus.

"Berdasarkan penelitian kami, diabetes merupakan penyakit masyarakat perkotaan. Semakin meningkat pendapatan masyarakat, semakin tinggi pula risiko terkena diabetes," kata Ketua Perkeni Prof Dr Ketut Suastika SpPD-KEMD.

Ia menyebutkan, pada 2010 jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai tujuh juta orang. Tiga tahun kemudian, jumlah itu bertambah menjadi 8,5 juta.

"Saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-10 jumlah penderita diabetes. Pada 2030 Indonesia diperkirakan naik ke peringkat keenam dengan jumlah penderita sekitar 12 juta," ungkap Rektor Universitas Udayana (Unud) Denpasar tersebut.





BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X