Miris, Muslim Uighur Dipaksa Buka Puasa di Siang Bolong

Rep: Ichsan Emrald Alamsyah/ Red: Citra Listya Rini

 Selasa 16 Jul 2013 17:41 WIB

Muslim Uighur (ilustrasi) Foto: muslimdaily Muslim Uighur (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, XINJIANG -- Pemerintah Beijing kembali meluncurkan program yang bisa melukai hati masyarakat minoritas Uighur, di Xinjiang, Cina. Program tersebut adalah melarang umat Islam masuk ke dalam masjid serta memaksa berbuka puasa di siang bolong.

Kelompok HAM Dunia begitu juga Organisasi Masyarakat Uighur pun menentang keras program ini. Pun, mereka meminta pemerintah Cina agar tak mengganggu umat Muslim yang sedang beribadah di bulan suci Ramadhan.

Juru Bicara Kongres Uighur Dunia, Dilxadi Rexiti, seperti dikutip dari South China Morning, mengatakan pada Jumat (12/7) lalu, para petugas pemerintah di Xinjiang datang ke rumah warga Uighur di siang hari. Mereka datang dengan menyediakan buah dan minuman ketika umat Muslim sedang menjalankan ibadah puasa.

Pemerintah setempat juga melarang umat Islam mempelajari teks dalam Alquran. Bahkan, aparat mengawasi dengan ketat masjid-masjid di sana. Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS (USCIRF) menyayangkan kebijakan Otoritas Cina yang membatasi Muslim Uighur ke masjid selama Ramadhan. 

Ketua USCIRF, Katrina Lantos Sweet, mengatakan atas nama stabilitas dan keamanan, Beijing menindas Muslim Uighur. "Ini pelanggaran atas dalih keamanan dan stabilisasi," katanya.

Namun, Juru Bicara Pemerintah Otonomi Xin Jiang, Luo Fuyong, membantah pemerintah telah memberlakukan pembatasan pada bulan Ramadhan. Ia bahkan menyatakan pemerintah menghormati keyakinan beragama dan adat istiadat setempat.

Namun, Fuyong mengakui pemerintah Uighur melarang anak-anak, khususnya siswa SD untuk berpuasa. Karena menurut mereka, anak kecil kadang tak bisa berpuasa dan juga untuk alasan kesehatan.

Dalam laporan tahunan USCIRF, Muslim Uighur dijebloskan ke dalam penjara jika mereka terlibat dalam kegiatan keagamaan. Kemudian bagi mahasiswa, dosen, dan pegawai pemerintah yang ketahuan berpuasa,  akan didenda.

Laporan lain berdasarkan data Asosiasi Uighur Amerika (UAA) yang berbasis di Washington, pada April, mengutip dari pemilik restoran di Hotan, mengatakan selama Ramadhan adalah waktu bagi mereka untuk menutup restoran. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X