Tantangan Berdakwah Mubaligh Indonesia di Prancis

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Hasanul Rizqa

 Selasa 14 May 2019 14:01 WIB

Ustaz Muhammad Zen Foto: Dok Ist Ustaz Muhammad Zen

Mubaligh Indonesia yang juga ambassador Dompet Dhuafa di Prancis cerita pengalamannya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjadi dai di negara-negara minoritas Muslim merupakan suatu tantangan sekaligus berkah. Hal itu diungkapkan dai ambassador Dompet Dhuafa di Prancis, Ustaz Muhammad Zen. Pada intinya, menurut dia, dakwah bermakna ajakan, seruan, atau imbauan. Mengutip pandanagn Syekh Ali Mahfudz dalam kitabnya, Hidayatul Mursyidin, dakwah berarti mengajak manusia melaksanakan amal kebaikan, sesuai petunjuk Allah SWT. Dengan begitu, mereka dapat meraih kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat.

Baca Juga

Tidak seperti di Indonesia. Di Tanah Air, tutur Ustaz Zen, ada begitu banyak pengajian. Jumlah jamaah yang hadir juga cukup banyak. Adapun di Paris, Prancis, untuk mengumpulkan jamaah yang puluhan orang hanya bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

Misalnya, memanfaatkan momen Ramadhan, yakni kala berbuka puasa dan tarawih berjamaah. Pada hari-hari biasa, kesempatan biasanya terjadi waktu shalat Jumat.

"Setidaknya ada tantangan dalam berdakwah. Walaupun jamaahnya satu, seorang dai harus siap dan ikhlas menyampaikannya (ajaran Islam). Saya merasa bersyukur dan senang karena saat menyampaikan tausiah, ada perkembangan jumlah jamaah," kata Ustaz Zen dalam keterangan yang diterima Republika.co.id, Selasa (14/5).

Dosen UIN Syarif Hidayatullah itu mencontohkan. Pada hari pertama kajian MT Arraudah, misalnya, Jum'at (10/5) lalu yang diadakan di aula KBRI Paris.

Saat itu, yang hadir hanya satu orang. Seorang Muslimah bernama Retno. Ustaz Zen mengenang, ibu tersebut ternyata begitu semangat belajar.

photo
Ustaz Muhammad Zen menyampaikan ceramah di Paris, Prancis. (Dok. Ist)

Retno mengaku tidak hanya mengikuti kajian di MT Arraudah, tetapi juga di Nation Paris yang dihelat di kediaman seorang WNI. Selanjutnya, pada hari kedua, kajian dilakukan pada Sabtu (11/5). Kali ini Retno, yang juga istri seorang teknokrat, menjadi tuan rumah.

"Alhamdulillah yang hadir jumlahnya lebih banyak dibanding sebelumnya yaitu menjadi tiga jamaah," ujarnya.

Yang menjadi catatan tersendiri dalam berdakwah bagi Ustaz Zen ialah komunikasi. Dalam arti, dia menjumpai sering kali jamaah memiliki daya tangkap atau keilmuan yang amat memadai.

Misalnya, tutur dia, ada seorang teknokrat yang begitu cerdas. Selain itu, kadangkala kajiannya dihadiri sejumlah pejabat tinggi Indonesia di Paris yang memiliki pengetahuan luas serta jaringan pertemanan yang luar biasa. Sebut saja seseorang bernama Ida. Ustaz Zen mengingatnya karena Dompet Dhuafa banyak berkomunikasi dengan salah satu lembaga filantropi yang diurus Ida.

Bagi Ustaz Zen, berdakwah di negeri orang tak sekadar menyampaikan materi keislaman, tetapi juga mempelajari perkembangan Islam di sana. Misalnya, dari perbincangan dengan Ida, Ustaz Zen mengetahui sekilas tentang keadaan umat Islam di Prancis.

Menurut Ida, perkembangan Islam di Prancis cukup pesat di seantero Eropa. Ada sekitar enam juta Muslim yang tinggal di Prancis. Negara ini memiliki 2.000 unit masjid.

Perkembangan lainnya dapat dilihat dari berbagai sisi perkembangan umat Islam. Umpamanya, ekonomi syariah. Masyarakat Muslim di sini sudah menyemarakkan pinjam meminjam tanpa disertai bunga.

"Setelah kami telusuri inilah akad yang namanya qard alhasan, bahkan ada kebiasaan masyarakat dalam perkebunan yaitu sistem paron atau paroan. Setelah kami telusuri ini adalah kajian ekonomi Islam tentang bagi hasil atau mudarabah, ada kajian muzaraah, mukhabarah dan musaqah," kata Ustaz Zen.

Saat ini, tren di masyarakat Paris ialah mengonsumsi obat herbal habbatussauda. Demikian halnya ketika mereka mengetahui salah satu ajaran Islam, yakni haram mengonsumsi daging babi. Ternyata, banyak penelitian dari para pakar di Prancis yang menjelaskan bahaya jika memakan daging babi.

Karena itu, lanjut dia, para warga Prancis juga menerima sajian daging halal, kendati agamanya bukan Islam. Perkembangan bank syariah di Prancis juga dapat dikatakan cukup pesat.

Demikian pula, sudah ada warga Prancis yang masuk ke dalam senator. Dengan begitu, akan ada warna Islam dalam politik nasional setempat.

Bagi warga Muslim Prancis, mereka kerap dihadapkan pada tantangan akan sikap kelompok-kelompok tertentu yang keras, tetapi justru mengatasnamakan Islam.

Ustaz Zen menambahkan, Islam adalah ajaran yang mengajarkan akhlak seorang murid kepada guru, bertetangga, dan lain sebagainya dalam hubungan antarsesama manusia.

Bahkan, ajaran Islam juga mengajarkan umatnya untuk memperhatikan kesejahteraan mereka yang tidak mampu. Hal ini menurutnya senada dengan kebijakan pemerintah Prancis sendiri yang memerhatikan kesejahteraan warga miskin, alokasi dananya bersumberd dari pajak.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X