Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

 

Menikmati Ramadhan di Tanah Suci

Kamis 02 May 2019 18:10 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Jamaah tengah menunggu buka puasa di halaman Masjidil Haram.

Jamaah tengah menunggu buka puasa di halaman Masjidil Haram.

Foto: Uttiek M Panji Astuti
Ramadhan di tanah suci tetap mempunyai arti yang istimewa.

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis Buku

Saya lirik jam tangan sekali lagi. Tiba di Bandara King Abd Azis-Jeddah pukul 16.45 waktu Saudi. Adzan Maghrib belum berkumandang.

Semua rombongan diminta segera naik ke atas bus. Bagasi sudah ada yang mengurus. Di bus dibagikan nasi boks berisi ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapan ala Indonesia. Kita akan buka puasa di atas bus.

Maghrib di Saudi sekitar pukul 19.10 atau 23.10 waktu Jakarta. Jadi kalau dihitung waktu Jakarta, hari ini saya berpuasa dari pukul 04.00- 23.10, total hampir 19 jam!

photo

Menunggu waktu Subuh di dekat Ka'bah pada malam Ramadhan.

Beberapa orang dalam rombongan memutuskan mengambil rukhsah sebagai musyafir, sehingga sudah makan di atas pesawat. Dan akan mengganti puasanya di hari lain. Termasuk Lambang.

Di pesawat, saat membagikan makanan pramugari akan bertanya, apakah berpuasa atau makanannya mau dibawa? Kalau makanannya mau dibawa, akan disediakan kantong plastik.

Ini adalah pengalaman pertama saya puasa di atas 14 jam. Rata-rata waktu puasa di Indonesia. Saya memang menghindari berpergian jauh saat Ramadhan.

Baru sekali ini saya melakukan perjalanan ke luar negeri di bulan Ramadhan. Karena tujuannya adalah rumah Allah. Untuk umrah.

Saat diumumkan adzan Maghrib telah berkumandang, rasanya tetesan air zam-zam yang membasahi tenggorokan lebih nikmat dari biasanya.

Puasa saat menempuh perjalanan sejauh 7,980 km (Jakarta-Jedah), di atas ketinggian 35.000 kaki, selama 19 jam itu…. MasyaAllah!

Setiba di hotel, setelah urusan check-in dan pembagian kamar beres, rombongan masih bisa mengejar untuk ikut shalat Qiyamul Lail.

Di Majidil Haram maupun Masjid Nabawi, selama Ramadhan shalat Tarawih dimulai sekitar pukul 21.00 hingga menjelang tengah malam. Lalu pukul 1 hingga 3 dini hari dilanjutkan shalat Qiyamul Lail.

Shalat Tarawih 20 rekaat tanpa witir dan imam membaca 1 juz surat dalam Alqur’an secara urut setiap harinya.

Sedang shalat Qiyamul Lail sebanyak 10 rekaat dan ditutup 3 rekaat witir. Meski bilangan rekaat shalat Qiyamul Lail lebih sedikit, namun durasi shalat sama panjangnya, yakni sekitar 2 jam.

Suasana Kota Suci di bulan Ramadhan tak ubahnya kemeriahan haji. Jamaah padat sekali. Apalagi saya datang di 10 hari terakhir Ramadhan. Saat gelombang puncak jamaah.

Animo masyarakat untuk umrah Ramadhan terus meningkat. Tak sedikit yang tidak jadi berangkat, gegara tidak dapat visa.

Terbukti harga paket umrah Ramadhan yang rata-rata dibanderol Rp 40 juta (sebagai perbandingan umrah reguler harganya sekitar Rp 30 juta -harga tergantung hotel dan maskapai yang digunakan) tetap laris manis diburu.

Kenaikan ini disebabkan harga tiket pesawat dan hotel yang naik 2-3 kali lipat dibanding harga di luar bulan Ramadhan. Apalagi untuk paket 10 hari terakhir dan berlebaran di Tanah Suci.

Data terbaru, tercatat sejak September 2018 lalu, visa umrah yang telah dikeluarkan pemerintah Saudi sudah lebih dari 4,1 juta. Dengan jumlah jamaah terbesar dari Pakistan (910.028). Kedua dari Indonesia (596.970). Ketiga dari India (391.087).

Sebanyak 3.266.663 jamaah berangkat ke Tanah Suci menggunakan transportasi udara. Sebanyak 374.915 menggunakan jalur darat dan 31.070 jamaah menggunakan jalur laut.

Di antara padatnya manusia, saat jeda menunggu shalat Witir, tiba-tiba ingatan saya melayang ke percakapan dengan Lambang setahun sebelumnya.

"Lebaran tahun depan kita enggak bisa naik becak begini lagi, nih," kata saya pada Lambang di atas becak saat berada di Malioboro-Yogya. "Karena kita sedang berada di depan Ka'bah," lanjut saya.

Suami saya, Lambang, tidak menanggapi.

"Semoga Allah mudahkan kita untuk umrah Ramadhan tahun depan ya," pancing saya lagi.

"Memang tabungannya cukup?" jawabnya pendek.

"Ini bukan masalah tabungan. Ini masalah doa. Kalau Allah sudah berkehendak, pasti akan disediakan jalan."

Tak terasa sudut mata saya kembali hangat, saat terdengar suara imam bertakbir memulai shalat Witir. Rasanya masih seperti mimpi bisa berada dalam jamaah shalat Qiyamul Lail di Tanah Suci.

Sekali lagi saya meyakinkan diri. Ini semata-mata masalah doa. Bila Allah sudah berkehendak, maka akan disediakan sebabnya.

Biidznillah…

Jakarta, 2/5/2019

Follow me on IG @uttiek.herlambang

Tulisan dan foto-foto ini telah dipublikasikan di www.uttiek.blogspot.com dan akun media sosial @uttiek_mpanjiastuti

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Napoli Gasak Liverpool 2-0

Rabu , 18 Sep 2019, 08:29 WIB