Sunday, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Sunday, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

 

Puasa di Bali Nan Kental Aroma Toleransi

Kamis 17 May 2018 11:41 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Muhammad Subarkah

Sejumlah pedagang menawarkan beragam makanan dan minuman untuk berbuka puasa di Denpasar, Bali.

Sejumlah pedagang menawarkan beragam makanan dan minuman untuk berbuka puasa di Denpasar, Bali.

Foto: Nyoman Budhiana/Antara
Umat Hindu secara sederhana mengenal konsep halal dan haram dalam Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Orang bilang, Bali tercipta ketika Tuhan sedang tersenyum. Umat Hindu sebagai komunitas terbesar di pulau ini hidup berdampingan dengan Muslim, Kristiani, dan Buddha.

Di beberapa titik Anda akan menemukan beberapa rumah ibadah didirikan dalam satu area. Kompleks Puja Mandala, Nusa Dua misalnya menjadi tempat di mana Masjid Agung Ibnu Batutah berdiri gagah di samping Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, Gereja Protestan Jemaat Bukit Dua, dan Pura Jagatnatha.

Di Jalan Lintas Bandara Ngurah Rai, Anda akan menemukan Masjid Nurul Huda berdiri bersebelahan dan berhadapan dengan gereja dan pura. Tak ada saling usik antara umat beragama yang berbeda keyakinan.

Lima tahun sudah saya bekerja dan menetap di Bali. Ini tahun kelima saya berpuasa dan menghabiskan Ramadhan di Pulau Dewata.Di Banjar Padang Udayana, tempat saya tinggal sekarang, tiga rumah ibadah berdiri tak berjauhan. Ia adalah Pura Dharma Kerti, Vihara Buddha Sakyamuni, dan Musala Nurul Iman.

Tiga kali setiap harinya saya mendengar Puja Trisandya di pura berkumandang susul menyusul dengan adzan Subuh, Dzuhur, dan Maghrib di masjid atau musala. Puja Trisandya adalah mantram dalam ibadah Hindu yang dilaksanakan untuk tiga kali persembahyangan, yaitu pagi, siang dan petang.

Saat pergi ke Pasar Badung, tampak  pedagang-pedagang takjil yang menjual aneka jajanan untuk berbuka puasa  bersebelahan dengan  pedagang-pedagang yang menjual bunga, dupa, dan  buah untuk  perlengkapan sembahyang di pura. Sungguh suatu keindahan dalam perbedaan.

Masyarakat Hindu mengenal ajaran Tat Twam Asi. Filosofi ini berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "Aku adalah Engkau, dan Engkau adalah Aku." Ini mengajarkan umat Hindu bagaimana cara berempati kepada orang lain.

Ketika kita menyakiti orang lain, maka diri kita pun tersakiti. Ketika kita mencela orang lain, maka diri kita pun tercela. Ajaran ini menjadi dasar dalam umat Hindu bersikap dan bertingkah laku, sehingga toleransi di sini begitu tinggi.

Ratusan kali saya melihat pecalang - petugas pengaman desa adat - menjaga Muslim menunaikan Shalat Jumat, Shalat Tarawih, Shalat Idul Fitri, Idul Adha, serta kegiatan besar keagamaan lainnya. Mereka tak hanya berjaga di pintu gerbang masjid atau musala, melainkan juga ikut mengatur lalu lintas menuju rumah ibadah, membantu merapikan susunan kendaraan di kantong parkir, tak ketinggalan salam dan sapa untuk Muslim yang lewat.

Meski Hindu, tak jarang pecalang sering mengucapkan salam secara Islam tanpa maksud apapun. Mereka hanya berusaha membaur dan 'guyub' dengan melepaskan label suku, agama, ras, dan golongan, meski salam mereka tak dijawab lengkap sebagaimana salam di antara sesama Muslim.

Umat Hindu menyebut Muslim dengan Nyamo Slam yang berarti Saudara Islam. Ini sebab komunitas Hindu dan Muslim memiliki kaitan leluhur sejak zaman Majapahit.

Nyoman Esya tetangga Hindu pertama yang mengajak kami berkenalan. Beliau sangat ramah dan baik hati. Sewaktu pindah ke rumah kami di Kompleks Padang Udayana, Denpasar, kami masih belum memiliki tempat parkir mobil memadai. Pak Esya dengan senang hati menawarkan ruang di garasinya yang cukup besar untuk parkir mobil kami selama kurang lebih satu bulan.

Pasangan suami istri, Ngurah Dirka dan Eka adalah tetangga Hindu kami lainnya sewaktu masih mengontrak di Tukad Banyusari, Denpasar. Setiap Hari Raya Galungan tiba, Mba Eka selalu mengantarkan makanan ke rumah kami. Istilahnya adalah ngejot.

Ngejot adalah tradisi Bali ketika seseorang menyampaikan hantaran makanan, bisa berupa nasi, lauk pauk, buah-buahan, atau kue ke rumah saudara, sahabat, tetangga, atau umat lain yang berbeda keyakinan.

Umat Hindu secara sederhana mengenal konsep halal dan haram dalam Islam, misalnya larangan Muslim makan daging babi, serta makanan minuman beralkohol. Saat ngejot, masyarakat Hindu biasanya memberikan buah, kue, atau makanan berbahan dasar ikan kepada teman Muslimnya.

Tradisi ngejot lama kelamaan juga familiar di kalangan Muslim Bali. Mereka pun membalas hantaran makanan untuk saudara, sahabat, atau tetangga mereka yang beragama Hindu pada saat Idul Fitri tiba. Isi hantarannya bisa berupa opor ayam, lontong sayur, atau aneka kue lebaran.

Toleransi dijunjung tinggi oleh orang-orang Bali, serta pendatang yang sudah lama tinggal di sini. Terlepas dari apapun akidah mereka, terlepas besar kecil perselisihan berbau SARA yang mencuat ke permukaan, Bali tetap menjadi pulau paling toleran di Indonesia.

Selamat berpuasa untuk seluruh Muslim Bali. Semoga Bali selalu santhi lan jagadhita (damai dan sejahtera).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES