Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

 

Menghidupkan Malam-Malam Ramadhan

Senin 05 June 2017 13:21 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Agus Yulianto

Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi

Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi

Foto: ROL/Sadly Rachman

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: TGH Muhammad Zainul Majdi, Gubernur NTB

Satu aspek dalam kita beragama yaitu kita tunduk dan berserah diri kepada Allah SWT. Jadi di dalam kita beragama selain pengamalan dengan perintah, maka memahaminya bisa dengan iman. Ramadhan merupakan bulan suci bagi umat Islam. Allah SWT menyiapkan bulan ini untuk kita, dan kesiapan kita dalam memaknai bulan suci ramadhan menjadi kunci utama.

Bulan suci ramadhan itu ibarat hidangan yang Allah SWT siapkan untuk kita dan masing-masing orang dipersilakan mengambil hidangan itu sesuai kesukaannya, boleh dan silakan. Yang diambil itu, misalnya, dari sisi membaca Alquran sebanyak-banyaknya, atau ingin di ramadhan semakin perbanyak sedekah di dalamnya, semuanya baik dan diperbolehkan. Yang tidak boleh ialah kalau ada orang diberikan hidangan oleh Allah SWT, tapi dia enggan menyentuhnya dan mengambilnya pada bulan ramadhan.

Ada beberapa ibadah yang dikhususkan dalam ramadhan. Salah satu yang khusus saat bulan suci ramadhan adalah Qiyamul lail yang merujuk pada shalat Tarawih. Shalat Tarawih yang utama di masjid. Kalau satu-dua malam terhambat, kerjakan di rumah.

Dalam sebuah hadis dikatakan barang siapa yang saat puasa ramadhan juga melakukan qiyamul lail saat ramadhan dengan penuh keyakinan, tidak mengharapkan balasan di dunia, tapi semata ingin menitipkan pahala kepada Allah SWT, hitung-hitungannya dengan Allah SWT bukan dengan manusia, maka diampunilah dosa-dosa kita.

Jadi tarawih itu merupakan sesuatu yang mahal karena tidak didapatkan pada bulan-bulan lain di luar bulan suci ramadhan. Shalat Tarawih itu tidak ada gantinya di waktu-waktu lain hanya dalam ramadhan.

Tarawih berasal dari kata tarwihah dan raahah menunjuk pada arti kata , rileks, istirahat dan hati yang nyaman. Makna tarwihah dan raahah juga aplikatif dalam pengerjaan tarawih, tidak bercepat-cepat, sikap tidak boleh terburu buru harus ada dalam shalat Tarawih kita. Rasulullah SAW shalat Tarawih panjang. Kita belum terbiasa seperti itu. Tapi tidak isti'jal (terburu-buru) itu harus ada.

Menghidupkan malam ramadhan berlipat kemuliaannya dibanding waktu yang lain. Di sepertiga malam, siapapun yang mencari Allah SWT, akan bertemu. Ada ikhtiar dan takdir. Allah SWT melingkupi dunia ini dengan banyak kebaikan. Tapi kaidahnya tetap sama, ikhtiar dan takdir, menjemput dan pemberian. Allah SWT memberi sesuai kadar kesiapan penerima.

Maka, siapkan diri. Kalau badan keringat saat shalat Tarawih, semoga jadi saksi amal shalih dan dibalas Allah SWT dengan sebaik-baiknya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pentas Seniman Bandung Peduli Lombok

Selasa , 14 August 2018, 23:59 WIB