Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

 

Kreasi Satai Maranggi dari Tenderloin untuk Berbuka

Jumat 03 May 2019 11:39 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Indira Rezkisari

Satai Maranggi racikan Raffles Jakarta untuk menu berbuka di Ramadhan 2019.

Satai Maranggi racikan Raffles Jakarta untuk menu berbuka di Ramadhan 2019.

Foto: Republika/Kiki Sakinah
Agar empuk daging tenderloin divakum tiga hari sebelum dijadikan satai maranggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbuka puasa dengan makanan olahan daging sapi seperti satai marangi bisa menjadi pilihan di bulan Ramadhan. Satai maranggi adalah makanan khas Jawa Barat yang biasanya disajikan dalam bentuk daging sapi dengan tusukan bambu. Satai maranggi biasanya disajikan dengan bumbu kecap atau sambal oncom dan ketan bakar.  

Namun, berbeda dengan satai maranggi yang disajikan oleh spesialis makanan Indonesia di Raffles Hotel Jakarta, Chef Elba. Satai maranggi disajikan tanpa ditusuk oleh bambu. Olahan daging sapi yang disajikannya dinamai Short Ribs Maranggi.

Chef Elba menggunakan daging sapi has dalam atau tenderloin sebagai bahan daging satai maranggi ini. Bentuk daging tenderloin bulat, lonjong, dan hanya ada sedikit di setiap ekornya.

Tentunya, pemilihan tenderloin ini membuat daging maranggi lebih empuk saat digigit. Jenis daging ini juga cocok untuk dikonsumsi orang yang sedang diet atau membatasi konsumsi lemak. Agar daging lebih mudah saat digigit, daging juga dipotong melawan serat.

photo
Beberapa sajian kuliner khas Nusantara yang dihadirkan dalam program Culinary Journey di hotel-hotel Accor di Indonesia.



Satai maranggi terkenal dengan rasa manis dari bumbu berupa ketumbar. Karenannya, bumbu yang digunakan pada daging ini pun lebih dominan manis dari ketumbar dan gula jawa.

Dalam pengolahannya, Chef Elba memilih daging sapi segar yang divakum terlebih dahulu dalam suhu 62 derajat selama tiga hari. Proses memasak seperti ini bertujuan agar daging matang, tetapi warnanya tetap stabil dan lebih segar.

Daging sapi selanjutnya dimarinasi dengan bumbu-bumbu. Setelah itu, daging sapi dipanggang dengan suhu 170 derajat selama 10 menit.  

Selain daging sapi yang disajikan tanpa ditusuk bambu, satai maranggi ala Chef Elba juga berbeda dalam tampilan penyajiannya. Ia memodifikasi penyajian makanan ini lebih cantik dan unik. Maranggi terkenal dengan oncomnya. Karena itu, Short Ribs Marangi ala chef satu ini disajikan dengan sambal oncom, acar nanas, ketan serundeng, dan kerupuk beras berbentuk jaring-jaring yang menambah cantiknya tampilan hidangan.

photo
Beberapa sajian kuliner khas Nusantara yang dihadirkan dalam program Culinary Journey di hotel-hotel Accor di Indonesia.



"Ini saya modifikasi sendiri dari satai maranggi dasar. Ada perpaduan dari pedas sambal dan asam dari acar serta manis daging sapi maranggi," kata Chef Elba, di acara konferensi pers 'Jelajah Kuliner Bersama Accor' di Raffles Hotel Jakarta.

Biasanya, satai maranggi dimakan dengan pelengkapnya, yaitu uli. Namun, Chef Elba mengubahnya dengan sajian ketan putih yang dilumuri serundeng. Ketan serundeng ini juga ditaburi sedikit kacang merah, menambah kenikmatan saat menguyahnya.

Short Ribs Marangi ini bisa anda nikmati dalam perjalanan kuliner yang dihadirkan di Accor melalui programnya 'Culinary Journey'. Di momen menjelang Ramadhan ini, Accor mempersembahkan program yang akan menampilkan keragaman sajian masakan serta cita rasa khas Nusantara dan internasional hasil olahan para tim kuliner yang ada di lebih dari 120 restoran di hotel-hotel Accor di Indonesia.  

Berbagai hidangan bercita rasa autentik lokal akan disajikan dari 7 destinasi pilihan, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Lombok.

photo
Beberapa sajian kuliner khas Nusantara yang dihadirkan dalam program Culinary Journey di hotel-hotel Accor di Indonesia.



"Tujuh tim kuliner handal akan menyajikan masakan khas daerah masing-masing. Sehingga para tamu yang menginap di hotel-hotel kami dapat menikmatinya bersama keluarga, rekan dan teman. Kami ciptakan keseimbangan antara makanan internasional dan masakah khas Nusantara," kata Chief Operating Officer Accor Indonesia, Malaysia, Singapore and South Asia, Garth Simmons.

Selain menyajikan masakan unik khas Nusantara dan internasional, program yang digelar sepanjang tahun ini juga mengajak para tamu untuk berpartisipasi secara aktif melalui media sosial. Para tamu bisa menampilkan foto makanan favorit mereka di hotel dengan memberi tanda pagar #accorfoodstory #accorculinaryjourney. Selain itu, para tim kuliner juga akan berbagi cerita mereka melalui media sosial dengan tanda pagar #accorchefdiary.

Bagi anda yang ingin berbuka puasa dengan masakan dan konsep restoran yang berbeda, anda bisa menikmati hidangan khas Turki di salah satu hotel yang tergabung dalam grup Accor, yakni Raffles Jakarta. Hotel ini akan menghadirkan konsep yang berbeda di restoran mereka di bulan Ramadhan tahun ini. Setelah berjalan sukses di tahun lalu, Raffles Jakarta kembali mengusung tema Turki di Arts Cafe dan Turkish Bazaar di pop-up restaurant mereka. Para tamu restoran akan dibuat serasa sehari di Istanbul.

Selain sebagai destinasi yang menarik, Simmons mengatakan konsep Turki dipilih karena negeri ini memiliki cita rasa yang luar biasa dan banyak diminati orang Indonesia. Konsep Turki di restoran ini akan tersedia setiap hari selama Ramadhan. Tak tanggung-tanggung, demi menjaga keotentikan dari masakan khas Turki, dua chef tamu didatangkan dari Raffles Istanbul, yakni Chef Umut Tabak dan Chef Bilal Keser.


  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES