Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

 

Merayakan Ramadhan di Singapura dengan Nasi Biryani

Jumat 24 Mei 2019 03:00 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Muhammad Hafil

Suasana Ramadhan di Arab Street, Singapura.

Suasana Ramadhan di Arab Street, Singapura.

Foto: Arabnews.com
Masjid Sultan menjadi titik bagi umat Islam di negara kota-kosmopolitan Singapura.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA – Masjid Sultan menjadi titik fokus bagi umat Islam di negara kota-kosmopolitan Singapura. Masjid itu juga yang selalu menjadi saksi lingkungan Kampong Glom menjadi hidup selama bulan suci Ramadhan. Dalam bulan penuh suci ini, masyarakat dari berbagai lapisan berduyun-duyun ke pasar menuju tempat bazaar didirikan.

Dilansir di Arab News, Jumat (24/5), Kampong Glam merupakan ‘kawasan Muslim’ Singapura dengan campuran unsur Melayu, Asia Selatan dan Timur Tengah. Lokasi tersebut selalu ramai dikunjungi ketika bulan Ramadhan. Sebab, menurut data resmi terbaru, sekitar 14 persen dari 5,6 juta penduduk Singapura adalah Muslim.

Di salah satu sudut Kampong Glam, terdapat Arab Street, area yang meliputi Bussorah Setreet, Haji dan Bali Lanes serta Muscat Street. Area ini merupakan pusat untuk para hipster, mural hidup, toko karpet Persia, bar shisha, parfum dan toko tekstil. Arab Street juga menjadi rumah bagi kubah emas khas Masjid Sultan.

Bahkan, ada gapura penuh hiasan yang menyambut masyarakat sebelum menjelajahi lingkungan Kampong Glam. Ruko-ruko di sekitarnya dibangun dengan arsitektur khas yang kini menjadi tempat untuk bekerja maupun hunian.

Seorang pedagang biryani, Nareza (36 tahun), mengatakan, kekerabatan di Kampong Glam sudah sangat erat. Masyarakat di sana seperti saudara dan saudari, bukan lagi rekan bisnis atau bahkan pesaing. "Saya tahu sebagian besar pelanggan, begitupun dengan mereka, mereka juga mengenal saya," ucapnya sembari melayani sejumlah pembeli yang kelaparan.

Nareza menyebutkan, hidangan khas di kiosnya adalah daging kambing. Racikan tersebut dibuat dari resep keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi, dimulai dari almarhum nenek. Tiap hari, ia dapat menjual lebih dari porsi 300 nasi biryani.

Nareza menjelaskan, dum biryani merupakan proses mencampur daging dan nasi bersama alam satu pot. Dalam masakan ini, nasi akan memiliki sedikit cita rasa masamala, sedangkan dagingnya memiliki aroma nasi basmati.

Nareza sendiri belajar membuat biryani dari sang ayah yang dulu melakukan pekerjaan aman di masjid. Mereka membuat rempah-rempahnya sendiri, bukan membeli dari pihak lain. "Karena itu, rasanya berbeda," ujarnya.

Bazaar di Kampong Glam selalu dipenuhi dengan berbagai dagangan, mulai dari makanan, minuman, dekorasi hingga peralatan rumah tangga. Variasi hidangan dari kebab, sushi sampai makanan Melayu yang tersedia mencerminkan status internasional Singapura.

Kampong Glam, terutama Arab Street, menjadi salah satu bukti upaya masyarakat setempat untuk melestarikan budaya bagi generasi mendatang. Sebab, Singapura kini memiliki reputasi sebagai salah satu kota termahal di dunia dengan gaya hidup masyarakatnya yang serab cepat.

Pemilik kedai jus, Riduan, mengatakan, Arab Street menghadirkan pemandangan unik. Sebab, ketika menginjakkan kaki di sini, akan terlihat berbagai ras berkunjung di satu titik. "Ini juga merupakan daya tarik wisata," ujarnya.

Melalui Arab Street, Riduan menuturkan, Singapura menunjukkan jati diri masyarakat Singapura sebenarnya. Singapura tidak hanya terbatas pada gedung pencakar langit seperti Marina Bay Sands. Lebih dari itu, warga Singapura merupakan sekumpulan orang dari berbagai latar belakang yang tetap menjunjung perdamaian.

Di sisi lain, Arab Street juga menjadi kawasan yang nyaman dan memberikan banyak pelajaran bagi umat Muslim. "Kami ingin menciptakan kesadaran tentang pentingnya Masjid Sultan bagi komunitas Muslim," ucap Riduan yang selalu menyumbangkan hasil penjualannya ke Masjid Sultan.

Baca Juga

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES