Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

 

Memburu Kicak di Pasar Sore Kauman Yogyakarta

Selasa 21 Mei 2019 12:21 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Christiyaningsih

Kicak.

Kicak.

Foto: Republika/Silvy Dian Setiawan
Kicak memiliki cita rasa manis dan gurih dan hanya dijual saat Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Aktivitas yang ada di Pasar Sore ramadhan Kampung Kauman, Yogyakarta adalah keunikan tersendiri. Pasar yang berada di di Gang Pasar Tiban tersebut selalu ramai dikunjungi saat Ramadhan.

Warga beramai-ramai mencari jajanan buka puasa yang ada di sana. Pasar itu mulai ramai sejak pukul 14.00 WIB.

"Ibu pinten (berapa) bu," tanya salah satu penjual di Pasar Sore Ramadhan Kampung Kauman, Yogyakarta.

" kicak nya lima ribu," ujar pembeli menjawab pertanyaan penjual tersebut.

Suara pembeli lainnya yang meminta untuk dibungkuskan makanan yang diinginkan mengisi Pasar Sore Ramadhan Kampung Kauman sore itu. Pembeli meminta ini dan itu agar si penjual membungkuskan makanan yang dibeli.

"Aku durung (belum)," kata pembeli lainnya.

Mereka seakan berlomba-lomba agar si penjual dapat membungkuskan makanan yang mereka inginkan secepatnya. Pembeli seakan khawatir makanan yang diburu segera habis diborong oleh pembeli lain.

Tangan penjual pun cekatan melipat-lipat bungkus makanan dengan cepat. Senyum terus tersungging di wajah penjual sembari terus melayani para pembeli.

Di pasar itu, terdapat makanan tradisional khas Yogyakarta yang tidak bisa ditemukan di daerah lain. Bahkan, makanan tersebut hanya bisa ditemukan saat Ramadhan. Makanan tersebut adalah kicak.

Kicak memiliki cita rasa manis dan gurih. Tak heran banyak masyarakat Yogyakarta yang menjadikan kicak sebagai salah satu menu ber buka puasa .

Kicak terbuat dari olahan jadah, gula pasir, nangka, kepala muda, dan pandan. Cara membuatnya pun tidak sulit dan tidak memerlukan banyak waktu. Salah satu penjual, Dina, yang merupakan warga asli Kampung Kauman membuat sendiri olahan kicak.

Pembuatannya dimulai dari mencampur olahan gula dan air hingga menjadi kental. Kemudian, kelapa muda yang sudah diserut harus dikukus terlebih dahulu. "Supaya dapat tahan lebih lama, tidak cepat basi," kata wanita 35 tahun ini.

Proses akhir hanya tinggal memasukkan nangka. Tujuannya agar kicak tidak lembek. Kicak memang merupakan makanan khas yang terus mengisi Pasar Sore Ramadhan Kampung Kauman. Sebagian pengunjung juga sengaja datang ke Pasar Sore tersebut karena hanya ingin membeli kicak.

Salah satunya adalah Siti yang datang dari Bantul hanya untuk mencari jajanan khas tersebut. "Kicak cuma ada di sini, kan ini khasnya Yogya dan cuma pas puasa," kata Siti.

Harga kicak pun tidak terlalu mahal. Harga yang ditawarkan tiap penjual berbeda-beda mulai dari Rp 2 ribu hingga Rp 3.500 per satuannya. 

Siti pun ikut memesan kicak sebesar Rp 10 ribu. Kicak tersebut dibungkus dalam kertas bungkus makanan berwarna coklat muda yang dilapisi dengan daun pisang.

Tidak semua penjual yang membungkus kicak menggunakan kertas pembungkus yang dilapisi daun pisang. Ada juga yang menggunakan wadah dari bahan plastik agar tampilannya lebih menarik.

Hingga saat ini, makanan tradisional ini masih diburu. Kicak tidak hanya digemari lidah kaum tua namun generasi milenial juga masih menggemari penganan ini.

Baca Juga

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES