Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

 

Sala Lauak, Bola-Bola Tepung Ikan untuk Berbuka

Senin 20 May 2019 16:22 WIB

Red: Indira Rezkisari

Sala Lauak

Sala Lauak

Foto: Wikipedia
Sala Lauak merupakan makanan khas Sumbar yang dijajakan hingga Pekanbaru.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Redi (20) nyaris setiap hari membeli minimal 10 buah Sala Lauak, makanan khas yang dijual pedagang di sepanjang Jalan Nenas, Kelurahan Kampung Tengah, Kecamatan Sukajadi, Kota Pekanbaru. Redi bisa memilih Sala Lauak, di sepanjang Jalan Nenas itu, karena terdapat banyak penjual makanan buka puasa, dan harganya masih tetap sama Rp 500 untuk satu butir Sala Lauak.

Redi membeli bukan untuk dirinya sendiri saja, tetapi juga untuk ibu, bapak dan saudaranya. Keluarganya masih memegang tradisi selalu berbuka Ramadhan dengan Sala Lauak.

"Sala Lauak enak dimakan sebagai makanan awal pembuka puasa. Makanan ini terbuat dari tepung beras berbentuk bulat kecil ini bisa dimasukkan langsung ke mulut dan berbuka puasa makin nikmat bila minum dengan teh hangat, atau es teh," kata Redi.

Sala Lauak, katanya, nikmat dimakan begitu saja, dan bahkan lebih legit lagi bagi orang dewasa jika ingin pedas dicampur dengan cocolan cabai merah. Sala Lauak, menurut Redi, menjadi jajanan kesukaan keluarganya, bahkan adiknya paling kecil Astri (4) selalu minta dipesanbelikan panganan khas di Kota Pekanbaru itu.

Menurut Reza (38), penjual Sala Lauak di Jalan Utama Kota Pekanbaru, setiap hari sebanyak 8.000 butir makanan itu terjual laris. Apalagi detik-detik menjelang berbuka pembeli sudah mengantri di tempat dagangannya dengan nama "Sala Lauak Incim".

Pedagang Sala Lauak Incim mematok harga per buah cuma Rp 500. Sala Lauak dilengkapi dengan bungkusan sambal atau cocolan cabai merah sebagai kuahnya.

"Alhamdulillah, dari 8.000 butir lebih penjualan Sala Lauak setiap hari pendapatan bisa mencapai Rp 4 jutaan lebih, hingga terpaksa mempekerjakan empat karyawan, untuk membantu melayani pembeli dan menggoreng sala pada empat penggorengan," katanya.

Menurut Reza, makanan Sala Lauak menjadi favorit di Kota Pekanbaru dan sekitarnya. Salah satu alasannya selain harganya terjangkau, hanya Rp 500 per buah, bisa mengenyangkan perut jika makan dua hingga lima buah, karena terbuat dari tepung beras dan ikan.

"Makanan ini merupakan khas masyarakat Pariaman, Provinsi Sumbar, akan tetapi bagi orang perantauan asal Sumbar di Kota Pekanbaru memproduksinya kembali dan ternyata cukup laris, selain enak juga mengenyangkan perut," katanya.

Untuk Sala Lauak buatan Sala Lauak Incim, katanya lagi, laris manis hingga dibawa ke Makkah, Kalimantan, Jakarta, sejumlah provinsi tetangga, dan Malaysia. Selain gampang dibawa tidak basi, bahkan adonan Sala Lauak mentah juga bisa dibuatkan dan dikirim ke luar provinsi.

"Untuk adonan mentah bisa dibuat tergantung seberapa banyak pesanan, bisa ditaruh di dalam kulkas dan ibu rumah tangga bisa menggorengnya kapan saja dan seberapa banyak yang dikehendaki," katanya.

Untuk menyiapkan adonan sala, Reza bersama sang istri, Rici (28), saat subuh sudah mulai mengaduk bahan. Pada siang adonan sudah bisa masuk ke dalam penggorengan dengan minyak dalam kondisi panas tinggi.




Baca Juga

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA