Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

 

Tips Menyimpan dan Menyiapkan Makanan Selama Ramadhan

Selasa 07 May 2019 08:28 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Indira Rezkisari

Menyimpan makanan di freezer.

Menyimpan makanan di freezer.

Foto: Flickr
Tidak semua makanan bisa disimpan di freezer untuk dihangatkan lagi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama berpuasa, tubuh membutuhkan asupan makanan yang sehat agar senantiasa bugar. Karena itu, penting memperhatikan pengolahan dan penyimpanan makanan agar makanan tetap terjaga kandungan gizi dan kebersihannya.

Selama bulan Ramadhan, ibu-ibu umumnya kerap menyimpan makanan di dalam lemari pendingin untuk dikonsumsi kembali keesokan harinya. Karena waktu yang terbatas untuk memasak dini hari saat sahur, para ibu biasanya menyiapkan masakan sebelumnya untuk kemudian disimpan di lemari pendingin, baik di freezer ataupun chiller. Sehingga saat sahur, makanan tersebut tinggal dipanaskan kembali untuk disantap keluarga.

Namun, tidak semua makanan bisa disimpan di dalam freezer. Spesialis makanan Indonesia di Raffles Hotel Jakarta, Chef Elba, memberikan tips menyimpan makanan di lemari pendingin saat bulan puasa.

Sebaiknya, bahan makanan yang dimasukkan ke dalam freezer adalah makanan yang belum diolah. Namun, tidak semua jenis makanan bisa diawetkan di dalam freezer.

Makanan yang bisa disimpan di dalam freezer adalah makanan jenis protein, seperti daging, ayam, ikan. Anda bisa menyiapkan ayam mentah yang telah diungkep bumbu-bumbu atau dendeng untuk disimpan di freezer. Saat hendak dikonsumsi, tinggal mengambil seperlunya dan menggorengnya.

Untuk makanan yang telah dimasak, seperti rendang daging, makanan bisa disimpan di freezer maksimal 3-4 hari. Makanan yang telah dimasak sebaiknya tidak disimpan terlalu lama di freezer. Karena setelah proses pembekuan dan kemudian dimasak lagi, makanan akan mengandung air lebih banyak dari sebelumnya. Hal itu menurut Chef Heri bakal mengubah rasa.

Selain perubahan rasa, makanan yang dipanaskan berulang kali  dapat membuat makanan itu terkontaminasi kuman dan makanan cepat rusak. Tentunya, ini bisa membuat gizi dari makanan tersebut berkurang. Makanan seperti tempe atau tahu ungkep bisa disimpan di chiller dengan suhu antara 1-4 derajat.

Pentingnya memperhatikan cara membersihkan makanan sebelum disimpan atau dikonsumsi. Umumnya, makanan seperti daging dipotong terlebih dahulu dan baru dicuci. Padahal, menurut Chef Heri, bahan makanan sebaiknya dicuci dahulu baru kemudian dipotong.

Makanan yang telah dipotong dan kemudian dicuci bisa membuat sari-sari makanan itu sendiri hilang terbawa air. Begitu pula dengan sayuran, sebaiknya dicuci dulu hingga kering, barulah kemudian dipetik.

Saat memasak, makanan jenis protein seperti daging, ayam, ikan, harus benar-benar matang. Makanan seperti daging atau ayam akan cepat basi jika dimasak setengah matang lalu dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Hal itu karena kuman (bakteri) masih hidup di dalam makanan.

Cara penyimpanan makanan pun harus dijaga. Karena banyaknya bahan makanan lainnya di lemari pendingin, kuman atau bakteri mudah mempengaruhi masakan yang kita simpan di lemari pendingin. Karena itu, sebaiknya masakan disimpan di dalam wadah atau kontainer tertutup, agar sedikit mengurangi kontaminasi dari bakteri lainnya.

Untuk masakan jenis sayuran, misalnya sayur sop, sebaiknya disimpan di chiller tidak lebih dari 10 jam. Di bulan Ramadhan, bisa memasak sayur setelah shalat tarawih untuk disimpan di chiller dan dihangatkan kembali saat hendak dikonsumsi di waktu sahur.


Baca Juga

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES