Asal Muasal Kolak Sebagai Isyarat Manusia Selalu Mengingat Allah

Rep: C27/ Red: Winda Destiana Putri

 Kamis 18 Jun 2015 16:35 WIB

Kolak (Ilustrasi) Foto: Google Kolak (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kolak merupakan penganan manis yang selalu muncul saat bulan Ramadhan. Di setiap warung pinggir jalan, orang-orang berlomba menjajakan kolak sebagai menu pembuka ketika adzan Maghrib berkumandang.

Takjil andalan ini memang begitu digemari masyarakat Indonesia. Selain karena rasanya manis, makanan ini juga memiliki berbagai variasi yang dapat memuaskan lidah dengan selera bermacam-macam.

Tapi sebenarnya bagaimana awal mula kolak itu? Apakah benar kudapan ini asli Indonesia? Menurut William Wongso, kudapan ini dimungkinkan berasal dari negara Timur Tengah.

"Mereka itu suka makanan manis-manis, jadi kalau kolak kemungkinan dari sana," ujar pakar kuliner nusantara ini saat dihubungi Republika, Rabu (17/6).

Setelah menelusuri lebih dalam, kolak ini merupakan salah satu media penyebaran Islam di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Masyarakat Jawa pada masa itu belum mengenal Islam dengan baik, sehingga para ulama mencoba berembuk untuk menetapkan satu cara sederhana agar masyarakat dapat memahami agama Islam.

Cara mudah dan sederhana akan lebih dipahami oleh masyarakat Indonesia pada waktu itu sepertinya berhubungan dengan makanan, dengan begitu para ulama sepakat memberikan kolak sebagai media penyebaran Islam. Penamaan makanan yang biasanya terbuat dari pisang atau ubi, gula aren, dan santan ini juga tidak sembarangan, ada filosofi sendiri pada setiap elemen kolak.

Kata kolak sendiri memiliki arti begitu dalam, rujukan nama yang digunakan adalah Khalik. Khalik dikenal masyarakat Indonesia dengan sebutan untuk Tuhan pencipta alam semesta, yaitu Allah SWT. Pengibaratan kolak itu menunjukan agar masyarakat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain nama, bahan-bahan kolak pun memiliki arti tidak kalah filosofi. Seperti pisang, bahan paling umum digunakan sebagai isian kolak adalah pisang kepok. Kata kepok ini merujuk pada kapok, mengartikan bahwa masyarakat harus kapok atau jera dalam berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah SWT.

Sedangkan bahan lain sering digunakan kolak adalah ubi. Ubi sering dikenal dengan nama telo pendem pada waktu itu merujuk pada makna bahwa masyarakat harus mengubur kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat, sehingga bisa melanjutkan hidup dengan jalan penuh ridho Allah SWT.

Awalnya kolak ini disajikan pada bulan Syaban, atau satu bulan sebelum memasuki Ramadhan. Pada bulan Syaban, umat Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud ketakwaan menjelang bulan penuh berkah. Tapi ternyata tradisi mengkonsumsi kolak berlanjut ke bulan Ramadhan sebagai kudapan buka puasa.

Hingga saat ini kudapan manis bersantan ini begitu populer di bulan Ramadhan. Bahkan sekarang kudapan ini bukan hanya tradisi orang Jawa, beberapa daerah bahkan negara di Asia Tenggara pun memiliki makanan berjenis hampir sama dengan kolak.

"Kolak tidak hanya menjadi tradisi orang pulau Jawa, seperti di Padang ada bubur kampiun, hampir mirip kolak, hanya saja kampiun seperti bubur," ujar William.

Meski dengan isian dan variasi yang berbeda, kudapan dengan bahan praktis telah mendapatkan inovasi-inovasi sesuai selera masing-masing tempat dan individu ini tetap saja membuat umat Muslim teringat dengan asal mulanya yang merujuk pada keberadaan Allah SWT.

Berita Lainnya

Play Podcast X