Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

 

Keseharian Rasulullah SAW Selama Ramadhan, Seperti Apa?

Rabu 22 May 2019 18:36 WIB

Red: Agung Sasongko

Rasulullah

Rasulullah

Foto: Pixabay
Rasulullah SAW adalah figur yang taat. Ketaatan itu tampak nyata dalam kesehariannya

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Rasulullah SAW adalah figur yang taat. Ketaatan itu tampak nyata dalam kesehariannya. Namun, intensitas dan frekuensi ibadah tersebut bertambah selama Ramadhan.

Ini tak lain, sebagai bentuk penghormatan sekaligus pemaksimalan atas keistimewaan yang ada pada Bulan Suci itu. Berbagai aktivitas yang digiatkan oleh Rasulullah selama Ramadhan dapat ditelusuri di banyak riwayat. Apa sajakah amalan-amalan Rasulullah selama Ramadhan?

Syekh Faishal bin Ali Al Bu’dani, dalam bukunya yang berjudul Hakadza Kana An Nabiyy fi Ramadhan, memaparkan keseharian Nabi Muhammad di sepanjang Ramadhan. Hal yang utama tentunya ialah berpuasa. Seperti apakah puasa yang dijalani oleh Pamungkas Para Rasul itu? Rasulullah selalu berusaha untuk mendahulukan berbuka dan mengakhirkan sahur.

Rasulullah memilih berbuka ringan terlebih dahulu sebelum shalat Maghrib. Untuk waktu sahur, yakni sejam sebelum azan Shubuh. Baik berbuka maupun sahur dilakukan dengan sederhana dan tidak berlebihan.

Hadis dari Anas bin Malik, misalnya mengisahkan seperti apakah santapan Rasulullah saat berbuka. Dikisahkan, untuk berbuka Nabi Muhammad mengonsumsi beberapa biji kurma kering atau kurma basah. Jika keduanya tidak ada, cukup meneguk sejumlah tegukan air putih. Menu yang sama juga sering disantap kala sahur.

Agar lebih bertambah berkah, Rasulullah tak melewatkan detik-detik berbuka untuk memanjatkan doa. Wak tu berbuka, termasuk masa tatkala doa sangat potensial untuk dikabulkan. Hadis Abdullah bin Umar dari Abu Daud menukil bahwasanya, Rasulullah selalu berdoa saat berbuka puasa.

Syekh Faishal mengungkapkan hikmah di balik tuntunan berbuka dan menyantap makan sahur. Kedua amalan sunah tersebut sangat ditekankan oleh Rasulullah, salah satunya sebagai batas perbedaan antara puasa dalam Islam dan tata cara puasa yang berlaku di kalangan Ahli Kitab. Tradisi puasa Yahudi dan Nasrani, tidak dikenankan anjuran menyegerakan berbuka atau menyantap sahur. Ini tergambar dalam hadis riwayat Ibnu Majah dan Muslim.

Ketika malam tiba, Rasulullah tak menghabiskan waktu-waktu berharga itu secara sia-sia. Nabi Muhammad menghidupkan malam-malam Ramadhan de ngan beribadah. Di antara amalan yang paling sering ialah shalat sunah dan membaca Alquran. Hadis riwayat Ahmad dari Aisyah mengisahkan kegiatan Rasulullah ter sebut.

Aisyah mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat Nabi Muhammad membaca Alquran seluruhnya dalam semalam dan tidak shalat hingga shubuh, serta tidak puasa sebulan penuh, kecuali di Ramadhan.

Selain itu, Rasulullah juga kerap beriktikaf sepanjang Ramadhan. Kegiatan itu mulai intensif dilaksanakan sejak bermukim di Madinah. Hampir setiap tahun, tak pernah absen melakukan iktikaf. Ini seperti ternukil dalam hadis Bukhari dari Aisyah.

Pada mulanya, pelaksanaan iktikaf itu berada di 10 malam pertama. Kemudian, berganti lagi di 10 malam kedua. Lalu, Rasulullah beralih mengintensifkan lagi di 10 malam terakhir. Hal ini ditempuh untuk mencari keberkahan malam Lailatul Qadar. Selanjutnya, iktikaf di 10 malam terakhir itu konsisten dilakukan hingga Rasulullah meninggal. Ini dikuatkan lagi oleh hadis riwayat Bukhari dari Aisyah. 

Ibadah sosial 

Meskipun Rasulullah mengintensifkan ibadah kepada Allah selama Ramadhan, ini tak berarti bahwa segala aktivitas vertikalnya itu mengabaikan perhatian dan kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar. Bahkan, kebaikan Rasulullah kepada para dhuafa dan mereka yang membutuhkan semakin meningkat. Jauh lebih besar dibanding kan hari-hari biasa.

Demikian juga, dengan ketinggian akhlak Nabi Muhammad. Perilaku dan budi pekerti luhur yang dimiliki Rasulullah, kian bertambah harum semerbak. Menebarkan aroma wangi bagi siapa pun yang menciumnya.

Apakah rahasia di balik peningkatan kebaikan Rasulullah atas sesama di Ra ma dhan? Sebuah riwayat dari Ibn Abbas menyebutkan bahwa energi yang menjadi daya pendorong kebaikan tersebut ialah pertemuannya dengan Jibril dan evaluasi serta ulangan bacaan (mudarasah) Alquran.

Aktivitas mudarasah Al quran itu berlangsung setiap hari sepanjang Ramadhan. Dan, lewat mudarasah ini pula, Rasulullah kembali memperbarui janji untuk tetap kaya hati, berjiwa besar, dan berlapang dada. Kondisi inilah yang terus mendongkrak sikap dan kebaikannya kepada sesama.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES