Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

 

Menilik Proses Pembuatan Alquran Batik di Solo

Senin 13 Mei 2019 16:35 WIB

Red: Esthi Maharani

Proses pembuatan Alquran batik di Mahkota Batik Laweyan, Solo, yang dilakukan para perajin batik, Senin (13/5).

Proses pembuatan Alquran batik di Mahkota Batik Laweyan, Solo, yang dilakukan para perajin batik, Senin (13/5).

Foto: Republika/Binti Sholikah
Puluhan kain yang berisi ayat-ayat Alquran tersebut dipajang secara berjajar.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Barisan ayat-ayat Alquran dalam lembaran kain terlihat memenuhi salah satu ruang di sebuah rumah di kawasan Kampung Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Puluhan kain yang berisi ayat-ayat Alquran tersebut dipajang secara berjajar.

Pada bagian tepi, terlihat motif batik dengan beberapa warna. Warna hitam mendominasi warna kain, sedangkan tulisan ayat-ayat Alquran berwarna putih. Alquran batik tersebut berukuran 105x95 sentimeter. Namun, ada salah satu yang berukuran paling besar mencapai 3x5 meter bertuliskan Surat Alfatihah.

Alquran batik tersebut merupakan kreasi para perajin di Mahkota Batik Laweyan, Solo. Sejak tiga tahun lalu tepatnya Ramadhan 1438H/2016, mereka membuat Alquran batik secara manual.

photo
Proses pembuatan Alquran batik di Mahkota Batik Laweyan, Solo, yang dilakukan para perajin batik, Senin (13/5).



Pemilik Mahkota Batik Laweyan, Alpha Fabela Priyatmono, mengatakan, kegiatan membuat Alquran batik tersebut terinspirasi ketika dia melihat pembuatan Alquran yang dicetak tipis kemudian waktu membacanya pakai pensil sambil menebali huruf.

"Dari situlah kami memiliki ide, kebetulan kami bergerak di bidang batik. Prosesnya hampir sama, akhirnya kami mempunyai satu gagasan untuk membuat batik Alquran ini," jelasnya saat ditemui wartawan di Mahkota Batik Laweyan, Senin (13/5).

Proses pembuatan Alquran batik secara manual tersebut terdiri dari beberapa tahap. Yakni, menjiplak ayat-ayat Alquran, menebalkan ayat-ayat Alquran, membuat motif batik, membatik, serta mewarnai. Masing-masing tahapan dilakukan pada ruangan yang berbeda. Proses tersebut membutuhkan sedikitnya lima orang.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan tersebut menambahkan, selama tiga tahun ini karyawannya setiap hari menyelesaikan Alquran batik tersebut. Sebab, setelah ditotal jumlahnya ayat-ayat Alquran hampir 500 halaman.

photo
Proses pembuatan Alquran batik di Mahkota Batik Laweyan, Solo, yang dilakukan para perajin batik, Senin (13/5).



Menurutnya, proses yang paling sulit saat membatik dengan lilin. Di samping itu, diperlukan beberapa kali pengecekan untuk memastikan penulisan ayat-ayat Alquran tidak ada yang salah. Pengecekan minimal dilakukan tiga kali, yakni setelah menjiplak, setelah membatik, dan setelah diwarnai.

"Karena lilin tidak menutup kemungkinan setelah diwarna ada pecah. Jadi proses yang cukup lama di situ. Pernah ada beberapa setelah jadi itu salah. Tapi kami ada teknik untuk mengulangi," paparnya.

Alpha menekankan, yang diutamakan dalam pembuatan Alquran batik tersebut dari sisu proses. Sebab, hal itu menjadi suatu edukasi dirinya dan para karyawan yang terlibat serta masyarakat untuk belajar membaca, menulis sekaligus memahami arti dari ayat-ayat Alquran. Bahkan, lebih baik jika bisa mengamalkan kandungan Alquran.

"Tulisan Alquran ini dibingkai dengan motif batik. Motif batik ini mencerminkan budaya sekitar kita. Dan kami aplikasikan tidak hanya budaya di Solo tp juga budaya di Indonesia. InsyaaAllah dengan Alquran batik ini kita bisa mewarnai budaya di sekitar kita dengan hal-hal yang baik sesuai dengan kandungan Alquran yang rahmatan lil alamin," imbuhnya.

Sampai saat ini, proses pembuatan Alquran batik dari tahap ayat-ayat yang dijiplak sudah mencapai 28 juz. Dia berharap pembuatan Alquran batik bisa selesai tahun ini.

Nantinya, setelah Alquran batik tersebut diselesaikan, sesuai rencana awal akan dijadikan koleksi Mahkota Batik Laweyan. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi kepada masyarakat. Khususnya, pada tahap awal melalui pondok pesantren maupun masjid-masjid.

"Karena ternyata setelah kami pelajari batik itu membentuk karakter, seperti kemandirian, tolong-menolong dan sebagainya. Sehingga kami berharap dengan adanya edukasi batik Alquran ini juga bisa membentuk karakter masyarakat. Yang nanti ke depannya juga akan kami kembangkan sebagai titik awal karakter kewirausahaan," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA