Pengalaman Ramadhan di Negeri Matahari

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

 Selasa 05 Jun 2018 21:40 WIB

Suasana buka puasa bersama pelajar dan pekerja Indonesia di KJRI Osaka pada Jumat (25/5). Foto: Republika/Fuji E Permana Suasana buka puasa bersama pelajar dan pekerja Indonesia di KJRI Osaka pada Jumat (25/5).

Warga Jepang sering kali bertanya terkait puasa, termasuk alasan tidak makan minum.

REPUBLIKA.CO.ID, Fuji Eka Permana/Wartawan Republika

 

Merindukan suasana Ramadhan dan suara adzan merupakan hal yang pasti saat berada di negeri yang mayoritas penduduknya non Muslim seperti di Jepang yang dikenal sebagai Negeri Matahari. Meski suasana Ramadhan tidak terasa dan lingkungan kurang mendukung, umat Islam tetap diwajibkan menjalankan ibadah puasa.

Muslim Indonesia yang sedang bekerja di Jepang, Fitiyah WN mengatakan, tidak ada suasana Ramadhan di Chiba sebelah timur Kota Tokyo. Karenanya sangat wajar merindukan lantunan suara azan yang biasa terdengar di kampung halaman saat Ramadhan.  

Sambil mengenang kampung halaman di Indonesia, Fitriyah mengatakan, di Indonesia bisa beli takjil tapi di Jepang tidak ada takjil. "Buka puasa di Jepang terasa hampa, saat tiba waktu buka puasa hanya memakan makanan ringan, kadang hanya minum air putih saja," kata Fitiyah kepada Republika.co.id, Senin (4/6).  

Ia menceritakan, Muslim di Jepang menjadi perhatian saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Biasanya saat kerja membawa botol minum, selama Ramadhan tidak membawa botol minum. 

Saat jam istirahat biasanya makan di kantin. Tapi selama Ramadhan tidak ikut makan di kantin saat jam istirahat. Sehingga membuat orang Jepang bertanya-tanya kenapa tidak makan saat istirahat, padahal bekerja membutuhkan energi dan tenaga.

"Pengalaman puasa saya di Jepang, orang Jepang banyak yang gak paham dengan ibadah puasa, mereka bertanya-tanya mengapa harus puasa," ujarnya. 

Di bulan Ramadhan ini, Fitriyah mengungkapkan, saat waktu istirahat sebenarnya tidak mau diam di kantin. Tapi tidak ada tempat lain untuk menghabiskan waktu Istirahat selain di kantin. Hal ini membuat orang Jepang bertanya-tanya kenapa tidak ikut makan saat istirahat.

Ia juga menerangkan, puasa di Jepang lebih lama daripada di Indonesia. Buka puasa sekitar jam 18.45 hanya saja masih waktu bekerja.

"Jadi buka puasa hanya minum air mineral saja. Setelah buka puasa dengan air mineral, melanjutkan pekerjaan lagi. Jam 07.30 (19.30 waktu setempat) baru selesai bekerja. Kemudian jam 02.00 dini hari harus bangun untuk makan sahur," ucapnya.

Ia menceritakan puasa di Jepang sekitar 16 jam, ditambah sedang musim sehingga makin menambah tantangan berpuasa. Apalagi bila ditambah lembur maka makin terasa beratnya berpuasa di Jepang.

"Memang lelah bekerja sambil puasa di sini, tapi alhamdulillah sampai sekarang masih berpuasa dan tetap sehat," kata Fitriyah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X